RADAR JOGJA – Penegakan protokol kesehatan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di kawasan Malioboro tak sekadar imbauan kepada pengunjung. Ratusan kursi telah dipasangi tali di setiap sisinya. Sehingga setiap kursi hanya bisa diduduki oleh satu pengunjung. Langkah ini sebagai wujud dari physical distancing.

Sayangnya tidak semua pengunjung patuh aturan ini. Beberapa tali dilaporkan rusak, putus, hilang, dan terdapat bekas sundutan api. Bahkan saat penjagaan lengah ada yang duduk berdampingan.

“Barangkali mereka belum punya kesadaran yang tinggi. Setiap kursi hanya boleh diisi satu makanya satu sisi kasih tali supaya tidak dududuki. Kadang kan yang ke Malioboro berdua, bertiga, berempat merasa nyaman duduk bareng makanya begitu,” tegas Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi, Sabtu (13/6.

Heroe meminta UPT Malioboro senantiasa mengawasi ratusan kursi tersebut. Baik edukasi kepada pengunjung melalui radio Malioboro maupun peran Jogoboro. 

Apabila terdapat perusakan atau pelanggaran dapat langsung ditegur.

Dia juga mengizinkan Jogoboro memberi sanksi kepada para pelanggar. Tentunya wujud hukuman yang terukur. Sehingga mampu memberikan efek jera maupun sanksi sosial kepada para pelanggar.

“Nanti Jogoboro bisa memberi sanksi kalau ada pelanggaran. Mereka sudah tahu apa yang akan dilakukan. Bisa mengingatkan atau push up jika melanggar physical distancing atau merusak batas tali kursinya,” katanya.

Kepala UPT Malioboro Ekwanto mengakui tak mudah melakukan pengawasan. Terlebih pengunjung kerap curi-curi kesempatan saat penjagaan lengah. Alhasil walau sering diperbaiki tetap ada tali pembatas yang rusak. 

Beragam strategi telah diterapkan untuk aturan ini. Tali yang awalnya berbahan tali rafia diganti dengan tali tambang plastik. Namun perusakan tetap terjadi. Bedanya tidak dipotong tapi dibakar dengan api rokok.

“Banyak ditemukan tali disunduti rokok sehingga putus, dirusak, dipotong. Kan pertama rafia, tidak bertahan lama jebol, terus ganti tali tambang plastik itu pun masih putus,” curhatnya.

Tak terhenti sampai di sini, pemasangan tali tambang ternyata tak menjadi penghalang. Para pengunjung tetap nekat duduk dengan tali tetap terpasang. Kejadian ini kerap ditemui oleh para pengunjung yang datang berpasangan.

“Nah ini biasanya yang pacaran atau berpasangan. Duduknya tidak mau jauh-jauhan terus maksa duduk bareng. Caranya ya itu, merusak tali tambang pembatasnya. Malah kadang tetap nekat diduduki,” ujarnya. (dwi/tif)

Jogja Raya