RADAR JOGJA – Hotel dan restoran di DIJ menjadi salah satu yang paling terdampak menyusul pandemi Covid-19. Oleh karena itu new normal disambut positif kalangan perhotelan dan restoran dengan akan menyiapkan protokoler baru.

Namun, Ketua DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) DIJ Deddy Pranawa Eryana akan melarang anggota PHRI yang belum siap infrastruktur dan SDM untuk buka operasional. Menurutnya, infrastruktur menuju protokol baru juga memerlukan biaya. “Tak semua hotel mampu,” kata Deddy kepada Radar Jogja.

Dia meminta pemerintah intervensi pinjaman modal awal untuk bisa membuka kembali dengan protokol kesehatan. Termasuk intervensi dalam membuka destinasi wisata sesuai protokol kesehatan. Dengan adanya pengunduran masa tanggap darurat hingga 30 Juni, bisa dimanfaatkan untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Terkait protokol new normal, dia mengatakan protokol kesehatan yang sudah diterapkan selama pandemi Covid-19 akan lebih diperketat. “Protokol baru tidak hanya disasarkan pada tamu hotel, melainkan juga karyawan,” tambahnya.

Sebelum ada pandemi, karyawan harus melayani dan menemui tamu dengan ramah. Kini justru harus menghindari pertemuan dengan tamu secara face to face. “Sebelum buka harus ada edukasi tentang protokol kesehatan, baik dalam pekerjaan maupun di luar bekerja. Sekarang harus jaga jarak, itu akan menjadi adab baru,” jelasnya.

Salah satu protokol baru yang akan diterapkan yakni etika karyawan saat berpergian ke luar kota. Karyawan harus  lapor dan cek kesehatan. Jika ada gejala, harus istirahat terlebih dahulu selama 14 hari.

Protokol dari segi infrastruktur, setiap hotel harus menyediakan tempat cuci tangan, hand sanitizer di depan maupun bagian dalam hotel dan restoran. Selain itu, menyediakan alat termo gun, pelindung wajah bagi karyawan, sarung tangan, dan lain-lain. “Apa yang sudah diterapkan saat wabah ini harus lebih diperketat saat new normal nanti,”  ungkap Deddy.

Selain itu, di setiap fasilitas harus ada pembatasan kapasitas. Misalnya, okupansi kamar yang semula bisa untuk rombongan enam sampai tujuh orang, akan dibatasi maksimal empat orang, menyesuaikan tempat tidur. Kemudian ada pembatasan kapasitas untuk kolam renang. Injtinya tidak boleh berkerumun.

Tak hanya itu, penyajian makanan diberlakukan room service atau diantarkan ke kamar. Hotel yang ada restorannya juga harus berkapasitas 50 persen dari tempat duduk. Tempat duduk harus berjarak minimal satu meter dengan lainnya. Karyawan yang menyajikan makanan juga harus memakai pelindung diri.

Pembatasan kapasitas juga berlaku bagi MICE, harus 50 persen dari kapasitas yang tersedia. Hotel harus menyediakan satu kamar yang representatif untuk fasilitas darurat dan diisi peralatan medis. “Terutama hotel berbintang harus ada oksigen dan peralatan medis,”  tambahnya.

Salah satu hotel yang telah mempersiapkan protokol new normal adlah Hotel The 1O1 Jogjakarta Tugu Jogja. Pihak pengelola telah siap untuk menyongsong peradaban atau kebiasaan baru saat new normal nanti.

Humas Hotel The 1O1 Jogjakarta Tugu Jogja Nur Arifin menyampaikan, sagala bentuk protokol telah disiapkan. “Mulai protokol untuk petugas, tamu, bahkan ruang atau kamar,” jelasnya kepada Radar Jogja  (6/6).

Pengelola telah menempelkan stiker di beberapa titik, seperti lift, lobi, resepsionis, dan di tempat lain berisi PHBS yang harus ditaati setiap orang. Seperti harus mencuci tangan sebelum masuk hotel, bersedia untuk dicek suhu, koper pengunjung juga akan disterilisasi terlebih dahulu, wajib jaga jarak, dan sebagainya.

“Yang jelas protokol yang sudah ada akan lebih diperketat dan bersedia menjalankan setiap anjuram pemerintah. Para staf dan pengunjung juga wajib menggunakan masker dan sarung tangan,” jelasnya.

Sementara itu, PHRI Bantul siap menyambut kebijakan pemerintah terkait pemberlakuan new normal. Ketua PHRI Bantul Muhammad Nur mengatakan, pihaknya tengah melakukan sosialisasi terkait protokol kesehatan hotel dan restoran. Kebijakan itu sudah diluncurkan oleh PHRI Pusat jauh  hari. Ada berbagai pertimbangan yang perlu disiapkan hotel dan restoran. Di antaranya memperketat kunjungan masuk, penyiapkan pengamanan bagi karyawan, juga menyiapkan fasilitas kesehatan sesuai standar protokol.

Dikatakan, hotel ataupun restoran harus jeli saat menerima kunjungan. Memastikan pengunjung dalam keadaan sehat. Mengukur suhu badan dengan thermo gun. Memastikan fasilitas hotel dalam keadaan bersih. Dan, rutin dalam penyemprotan disinfektan. Dalam hal ini, usia kunjungan juga harus diperhatikan. Misalnya anak-anak, ibu hamil ataupun lansia yang rentan terhadap penularan Covid-19.

“Misalnya suhu di atas 37,5 derajat Celcius tidak diperkenankan masuk,” ungkap Nur, sapaannya, Sabtu (7/6). Dikatakan, pengunjung juga diwajibkan memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, memakai hand sanitizer dan menjaga jarak. Begitu juga dengan tempat dan pelayanannya. Kapasitas restoran juga harus dibatasi, 50 persen dari normal.

“Harus bersih. Karyawan wajib memakai alat pelindung diri (APD),” terangnya. Karyawan wajib mengenakan helmet pelindung kepala, mengenakan pakaian panjang, dan sapu tangan selama pelayanan.

Sekretaris BPD PHRI DIJ Herman Tony menambahkan, kebijakan new normal ini suatu bentuk komproni menjembatani kepentingan kesehatan dan ekonomi. Karena sebelumnya tatanan lebih ditekankan pada sisi kesehatan.  “Oleh karena itu, sudah saatnya ekonomi kita pulih. Kita butuh sinergitas dari berbagai pihak,” tuturnya.

Untuk memulihkan kembali ekonomi, hotel dan restoran perlu bekerjasama dengan pihak lain. Termasuk agen travel dan menyangkut kepariwisataan. Kendati begitu, pengawasan terhadap kunjungan luar daerah juga harus ditekankan. Hal ini untuk menghindari persebaran Covid-19 antar daerah. “Apakah nantinya dibuka dulu untuk lokal (se-DIJ) atau diperbolehkan antardaerah. Ini yang masih kami tunggu kebijakannya,” ungkapnya.

Selain itu untuk persiapan new normal, dia berharap pemerintah turut gencar dalam mempromosikan dan meyakinkan kembali pengunjung bahwa hotel dan restoran sudah menerapkan protokol kesehatan. “Sehingga tamu tidak takut jika ke hotel atau makan di restoran,” ungkapnya.

Sementara itu, Operasional Manager dan Pengelola Raja Resto Yohanes Hendra menyebut, kebijakan new normal seperti halnya kegiatan sehari-hari yang sudah diterapkan sejak lama. Tetapi dengan adanya tatanan baru ini, kegiatan itu lebih ditekankan. Semata-mata untuk kesehatan. Misalnya cuci tangan. Hal ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat. Sebelum makan wajib mencuci tangan. Sebelum tidur juga mencuci tangan. Memakai masker saat berkendara dan lain-lain. “Nah ini kan sebenarnya hal yang kebanyakan orang lakukan. Tetapi saat pandemi ini lebih ditekankan lagi,” ujarnya  (6/6).

Nah, hal itu perlu dibudayakan lagi dalam masa ini. Kendati begitu, memberlakuan protokol kesehatan oleh pemerintah menjangkau lebih luas lagi. Salah satunya restoran. Pengelola Raja Resto ini mengungkapkan, saat ini kondisi di bidang usaha sedang  mengalami fase sulit. Penerapan kebijakan new normal dipastikan berpengaruh besar pada pengeluaran usaha. Kendati begitu, untuk dapat bertahan, mengutamakan pelayanan menjadi modal utama. (cr1/mel/laz)

Jogja Raya