RADAR JOGJA – Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran DIJ Deddy Pranowo Eryono menegaskan penerapan standar operasional prosedur (SOP) dan protokol Covid-19 berlaku baku. Dia tak segan untuk tak menerbitkan izin apabila anggotanya tak memenuhi syarat. Kaitannya adalah tingkat kepercayaan konsumen kepada pelaku usaha khususnya nama baik DIJ.

Pria yang juga menjabat General Manager Hotel Ruba Grha Jogjakarta ini meminta penerapan regulasi berlaku ketat pada sumber daya manusia (SDM) internal. Tak ada tawar menawar penerapan regulasi ke sisi unit usaha. Langkah ini setidaknya dapat memberi rasa aman dan nyaman kepada konsumen.

“Bagaimana karyawannya, jangan sampai menyusun regulasi tapi SDMnya sendiri malah tidak siap. Kami tegas, apabila buka, harus siapkan infrastruktur dan SDM untuk protokolnya. Sebelum siap, dilarang buka,” tegasnya, Rabu (3/6).

Berdasarkan data PHRI DIJ, terdapat anggota sebanyak 469 hotel dan restoran. Dari jumlah tersebut hanya 47 hotel dan restoran yang operasional pasca pandemi Covid-19. Mayoritas memilih menutup sementara unit usaha.
Kebijakan ini ditempuh untuk menekan angka biaya produksi. Tak hanya fasilitas penunjang tapi juga pembiayaan kepada karyawan hotel dan restoran. Pertimbangannya adalah masih minimnya jumlah konsumen maupun tamu selama pandemi Covid-19 melanda.

“Itu jadi permasalahan pelik bagi kami. Karena memang tidak ada tamu. Kalaupun dipaksakan buka, jumlah tamu atau konsumen tidak bisa menutup biaya produksi,” katanya.

Public Relation Grand Inna Hotel Jogjakarta Retno Kusuma menuturkan, hanya sekitar 40 kamar yang teraktivasi selama pandemi Covid-19. Hotel bintang lima ini sendiri memiliki kapasitas total 227 kamar. Kebijakan ini ditempuh karena angka tamu menurun drastis.

Manajemen hotel juga tak memutuskan tutup operasional. Terbukti hotel ini tetap buka sejak Pandemi Covid-19 terjadi di Jogjakarta. Berkurangnya tamu disiasati dengan beragam paket program. Seperti work from hotel, penjualan voucher dan drive thru pastry.

“Kami tetap menerima tamu, berapapun jumlahnya. Kami gunakan kamar heritage wing sebanyak 40an kamar. Disana sirkulasi sangat bagus dan aksesnya pakai tangga,” ujarnya dihubungi melalui sambungan telepon.

Protokol ketat berlaku selama operasional khusus. Setiap tamu wajib menjalani pemeriksaan suhu tubuh. Apabila normal diizinkan untuk menginap. Namun apabila suhu tubuh tinggi wajib melengkapi diri dengan surat sehat.
Setiap tamu juga wajib mengisi formulir di meja penerima tamu. Langkah ini sebagai wujud preventif manajemen hotel. Ada pula klinik kesehatan yang disiagakan oleh manajemen Grand Inna Hotel Jogjakarta.

Penerapan physical distancing berlaku sejak tamu berada di lobi hotel. Berupa penanda jarak di antrian penerima tamu, kursi lobi hingga lift tamu. Setiap lantai diberi tanda silang dengan jarak sekitar satu meter.

“Pelayanan kepada tamu hotel berubah drastis. Breakfast diantar ke kamar pakai boks. Pembersihan juga semakin intens. Seperti semprot disinfektan ke gagang pintu, tombol lift atau kamar,” katanya.

Pengawasan ketat juga menyasar seluruh SDM internal. Sebelum beraktivitas, setiap karyawan wajib memeriksakan suhu tubuh. Penggunaan alat pelindung diri (APD) personal baku. Seperti penggunaan sarung tangan, masker hingga face shield.

“Setiap departemen memiliki kebijakan yang ketat. Tapi intinya adalah menjalankan protokol kesehatan dengan patuh dan disiplin. Nanti saat masuk, langsung dicek suhu tubuhnya oleh satpam. Wajib hand sanitizer juga,” ujarnya.(dwi/tif)

Jogja Raya