RADAR JOGJA – Bayi kembar berjenis kelamin perempuan ditemukan terbujur kaku di antara tumpukan sampah di dermaga bagian atas Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul. Kedua bayi memiliki panjang sekitar 47 centimeter dengan berat masing-masing 2,6 kilogram dan 2,7 kilogram.

Tidak ditemukan cacat fisik pada kedua bayi tersebut. Bayi tidak lahir prematur atau lahir sesuai jadwal. “Dari keadaannya, bayi baru lahir. Pasenta masih ada dan tali pusar belum terpotong,” ungkap seorang tenaga kesehatan (nakes) Puskesmas Piyungan yang tidak ingin disebutkan namanya saat ditemui di kantornya, Minggu (17/5).

Dikatakan, untuk menentukan bayi saat dibuang dalam keadaan hidup atau sudah dalam keadaan meninggal dunia, perlu pemeriksaan mendalam.  “Untuk menentukan penyebab kematiannya, harus diotopsi,” jelasnya.

Disebutkan, seorang bidan dan satu perawat Puskesmas Piyungan diminta untuk mendampingi Polsek Piyungan ke tempat kejadian perkara (TKP). Keduanya lalu melakukan pemeriksaan terhadap kondisi jasad bayi kembar malang itu. “Karena sudah meninggal, pihak kepolisian kemudian menyerahkan ke masyarakat untuk langsung dikebumikan,” paparnya.

Kanit Reskrim Polsek Piyungan Iptu Wahyu Triwibowo memaparkan, Polsek Piyungan mendapat laporan bahwa warga menemukan jasad bayi kembar di TPST Piyungan sekitar pukul 10.00. Iptu Wahyu kemudian mendatangi TKP bersama Babinsa, Inafis, dan petugas puskesmas. “Ternyata bayi kembar perempuan dan sudah ditepikan oleh warga,” katanya.

Kedua bayi itu ditemukan oleh pemulung bernama Tumiyem, 50, yang sedang mengais material sampah. Tumiyem yang ketakutan lantas lari. Pemulung lainnya, Waljono, 49, kemudian mengangkat jasad bayi itu dan memindahkannya ke tepian.

“Awalnya jasad bayi berada di tengah, karena truk membuang sampah di dermaga. Ketemunya saat warga mencari sampah. Ada kemungkinan bayi dibuang di depo, kemudian terbawa truk dan baru ditemukan di sini,” urainya.

Dimungkinkan bayi kembar itu dilahirkan tidak melalui persalinan medis. Saat ini, petugas sedang mengumpulkan saksi. “Pemakaman kami serahkan ke pengelola TPST Piyungan,” sebut Wahyu.

Bayi ke-10 yang

Ditemukan di TPST

Juru bicara warga sekitar TPST Piyungan Maryono mengatakan, penemuan bayi kembar perempuan kemarin (17/5) adalah kasus ke-10 sejak beroperasi 25 tahun lalu. Kasus kesembilan terjadi sekitar tahun 2017. Kasus-kasus sebelumnya tidak disebutkan.

Ia membenarkan jasad bayi kasus ke-10 ditemukan pemulung di tumpukan sampah sekitar pukul 10.00. “Ibu Tumiyem yang menemukan kini masih trauma dan nggak bisa diajak bicara,” ungkap Maryono.

Maryono mengungkapkan, Waljono, pemulung lainnya mendekati jasad bayi yang ditemukan. Awalnya mengira hanya terdapat satu jasad. Tapi setelah diangkat, ternyata ada dua bayi yang terbujur kaku. “Dikira hanya satu, ternyata kembar,” sebutnya.

Dikatakan, kuat dugaan jasad bayi kasus ke-10 ini berasal dari depo di sekitar Pringgokusuman, Gedongtengen, Jogja. Sebab, truk pengangkut sampah hanya mengangkut sampah sesuai dengan depo masing-masing. “Dari 10 kali kasus penemuan mayat bayi, pelakunya belum pernah diketemukan,” ketusnya.

Dijelaskan, sulit melacak pelaku pembuangan bayi. Kendati truk pembawa jasad bayi dapat diprediksi di mana lokasinya mengambil sampah, pembuang bayi dapat berasal dari mana saja. “Bisa saja yang membawa orang jauh,” sebutnya.

Waljono menambahkan, jasad bayi kembar yang ditemukan itu tidak dibalut sama sekali. Diperkirakan sewaktu dibuang masih hidup dan baru ditemukan setelah empat jam meninggal. “Akan saya makamkan di sini,” ujarnya.

Dijelaskan, bayi berada dalam keadaan suci, sehingga langsung dibungkus dengan kain kafan dan dimakamkan.  “Yang sebelumnya juga seperti itu,” ungkapnya.

Sementara itu, karyawan TPST Piyungan Sumarwan mengatakan, permalasahan ini menjadi tanggung jawab bersama. Bukan hanya tanggung jawab TPST Piyungan. “Semua ada asalnya, karena TPST Piyungan hanya menerima saja,” ujarnya.

Dikatakan, permasalahan ini berkaitan dengan kemanusiaan. Jadi pengelola tetap mengupayakan penguburan yang layak. Sejak Sumarwan bekerja tahun 2008, dia sudah menjumpai enam kasus pembuangan bayi di TPST Piyungan.

Dia berharap kasus ini menjadi yang terakhir dan tidak terulang kembali. “Sampun, semoga ini yang terakhir,” harapnya. (cr2/laz)

Jogja Raya