RADAR JOGJA – Wacana pengoptimalan RSPAU Hardjolukito belum bisa terwujud dalam waktu dekat. Kendalanya adalah ketersediaan tenaga medis yang bersiaga selama pandemik Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Tak hanya dokter dan perawat tapi juga tim pendukung lainnya.

Awalnya Gubernur DIJ Hamengku Buwono X meminta adanya partisipasi kabupaten/kota. Berupa upaya menyumbang tenaga medis di RSPAU Hardjolukito. Sehingga rumah sakit tersebut bisa operasional penuh tiga lantai.

“Ternyata setelah pertemuan hari ini, memang belum bisa terwujud dalam waktu dekat. Ada kabupaten yang masih menghitung tenaga medis dan paramedis di wilayahnya,” jelas Sekretaris Provinsi Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji, ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Rabu (13/5).

RSPAU Hardjolukito sendiri awalnya memiliki ketersediaan tenaga medis yang mencukupi. Hanya saja hampir separuhnya dikirim ke Wisma Atlet Jakarta. Perannya untuk membantu penanganan pasien di rumah sakit darurat tersebut.

“Sebenarnya ada tiga lantai, tapi setelah tenaga medisnya berkurang hanya operasikan satu lantai. Kalau kapasitas total tiga lantai itu sekitar 200 bed,” ujarnya.

Perencanaan ini memang tidak bisa berjalan cepat. Perlu ada pertimbangan terkait ketersediaan tenaga medis di setiap wilayah. Konsekuensi pengoptimalan RSPAU Hardjolukito memang berimbas pada berkurangnya tenaga medis di setiap wilayah.
Salah satunya adalah Kabupaten Bantul. Diketahui bahwa Pemkab Bantul telah mendirikan Rumah Sakit Lapangan Covid-19. Tenaga medis yang tidak bertugas di rumah sakit rujukan dilibatkan dalam pelayanan medis di rumah sakit tersebut.

“Baru Bantul yang memberi jawaban atas wacana itu (optimalisasi RSPAU Hardjolukito) yang lain masih menghitung, apakah memungkinkan untuk bisa disuport ke RSPAU Hardjolukito,” katanya.

Wacana ini terkait semakin menipisnya jumlah ruang isolasi di rumah sakit rujukan. Berdasarkan data Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ, jumlah ruang isolasi telah terpakai 70 persen. Disatu sisi jumlah pasien rawat isolasi terus bertambah.
Solusi lain adalah mengoptimalkan ruang isolasi bagi pasien kritis. Khususnya yang telah dinyatakan positif Covid-19. Sementara untuk status pasien dibawahnya bisa dialokasikan di tempat berbeda. Seperti pemanfaatan gedung milik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

“Data dari gugus tugas bidang kesehatan seperti itu. Untuk bed ada 70 persen terpakai. Ada solusi seperti Sleman itu pakai asrama haji untuk reaktif RDT. Ini bagus, sehingga bisa mengurangi beban ruang isolasi milik rumah sakit,” ujarnya. (dwi/ila)

Jogja Raya