RADAR JOGJA – Pedagang kaki lima (PKL) Malioboro sangat merasakan dampak dari virus korona. Mereka yang menjadi salah satu tarik wisatawan di Malioboro itu kini harus merasakan dampak ekonomi karena tidak bisa berjualan seperti biasanya.

Presidium Paguyuban Kawasan Malioboro Sujarwo Putro mengatakan, PKL Malioboro masih banyak yang belum berjualan. “Di samping sepi pengunjung, juga ada semacam saran tidak resmi untuk tidak berjualan,” ujarnya kepada Radar Jogja, Senin (11/5).

Sedangkan mal sudah mulai buka pada sejak Sabtu (9/5). Sementara toko-toko juga belum buka, kecuali hanya beberapa saja. Itupun hanya toko tertentu dengan jam operasional terbatas.

Menurut Sujarwo, para PKL Malioboro sedang berembug untuk mempertimbangkan apakah akan mulai berjualan kembali atau tidak. Di sisi lain, mereka sudah habis-habisan karena lama tidak jualan. Juga kini jalur transportasi, telah dibuka, meskipun dengan pelonggaran. “Itu masih dirembug dan dipertimbangkan. Menghitung yang buruk dari yang paling buruk. Menimbang untung ruginya juga,” jelasnya.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro Ekwanto menyebutkan, terkait PKL Malioboro pihaknya masih akan mengikuti perkembangan atau dinamika aturan pemerintah. Baik Pemprov DIJ maupun Pemkot Jogja. “Mengingat DIJ belum ada PSBB seperti di wilayah lain,” kata Ekwanto.

Dia menyebutkan, sejauh ini belum ada larangan untuk para PKL tidak berjualan. Namun, para PKL dengan sendirinya memilih tidak berjualan karena Malioboro juga sepi tidak ada pengunjung. “Dengan begitu, akan sangat mempengaruhi penghasilnya mereka. Jadi sebagian besar memilih untuk tidak berjualan,” imbuhnya.

Kalaupun ada yang berjualan, Ekwanto mengungkapkan untuk senantiasa menjaga physical distancing. Yaitu dengan selalu memakai masker, sering mencuci tangangan dengan sabun di air yang mengalir. “Yang jelas tetap menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Tidak diperkenankan juga pembagian sembako di Malioboro,” ungkap dia. (cr1/din)

Jogja Raya