RADAR JOGJA – The God Father of Broken Heart Didi Kempot tutup usia dan telah dimakamkan di Ngawi, Jawa Timur. Penyanyi campursari ini meninggal dunia di RS Kasih Ibu Solo, pukul 07.45 kemarin (5/5) karena diduga serangan jantung. Semasa hidup, almarhum memiliki kedekatan emosional dengan Gunungkidul.

GUNAWAN, Gunungkidul, Radar Jogja

KONKEKSI Didi Kempot dengan Gunungkidul terhubung dari kedekatannya terhadap keluarga maestro campursari almarhum Manthous. Dalam kesempatan jumpa pers dengan awak media akhir 2019 lalu, Didi Kempot mengaku kagum dengan Manthous.

Sejumlah lagu karya Manthous yang hingga sekarang masih sering dinyanyikan di atas panggung berjudul “Getuk”.  Nah, setiap ingin menggunakan lagu-lagu itu, Didi Kempot berkomunikasi dengan pihak keluarga Manthous.

Kemudian secara khusus Didi Kempot juga membuat lagu dengan cerita Gunungkidul. Lagu berjudul “Banyu Langit” meledak, bahkan menurut Bupati Gunungkidul Badingah, berimbas kepada terdongkraknya pendapatan sektor pariwisata di kabupaten ini.

Ademe Gunung Merapi purbo. Melu krungu swaramu ngomongke opo. Ademe Gunung Merapi purbo. Sing ning langgran Wonosari Jogjakarta.

Itulah penggalan lirik lagunya. Lagu ini mengambil cerita tentang objek wisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul.  “Setelah beliau mempromosikan Gunungkidul melalui lagu, ternyata dampaknya luar biasa,” kata Badingah saat ditemui di ruang kerjanya.

Menurutnya, Didi Kempot sering berkunjung ke Gunungkidul untuk mengisi acara. Semasa hidup, ketika diundang selalu memastikan datang. Hal ini merupakan dukungan kepada Kabupaten Gunungkidul untuk mengembangkan pariwisata.

“Atas nama pribadi dan masyarakat Kabupaten Gunungkidul, kami ikut berbelangsukawa. Mudah-mudahan beliau wafat dalam husnul khotimah dan diampuni segala dosa,” ucap Badingah dengan wajah sedih.

Sementara itu Bidang Pemasaran Pokdarwis Nglanggeran Heru Purwanto juga mengaku memiliki  kesan tak terlupakan bersama Didi Kempot. Tidak lepas dari munculnya lagu “Banyu Langit”. Beberapa tahun lalu, Didi mengutarakan niat membuat lagu tentang Nglanggeran. Seniman asal Surakarta ini datang langsung ke Nglanggeran.

“Beliau mengaku kagum dengan batu-batu besar di Nglanggeran, sehingga ingin membuat lagu tersebut,” kata Heru. Selama proses persiapan pembuatan lagu di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran, Didi Kempot bersama warga berkumpul di Pendapa Kalisong.

Meski public figure, dalam pandangan Heru ternyata orangnya sangat ramah. “Semasa hidup Mas Didi Kempot kami kenal sebagai orang baik. Kami ikut kehilangan atas berpulangnya beliau,” kata Heru. (laz)

Gunungkidul