RADAR JOGJA – Antrean panjang ditemui di Gereja Santo Antonius Kotabaru, Gondokusuman, Kota Jogja, kemarin sore (29/4). Sambil menjaga jarak, pengantre itu hendak mendapatkan nasi bungkus melalui program lemari nasi yang digagas Komunitas Kotabaru (Kobar).
Kegiatan kemanusiaan ini biasa digelar di pagi hari. Namun saat Ramadan, pelaksanaannya digeser menjelang waktu berbuka puasa. Tujuannya agar dapat berbagi dengan umat muslim yang hendak membatalkan ibadah puasanya.
Pastor Kepala Gereja Santo Antonius Kotabaru Romo Maharsono Probho mengungkapkan, Kobar mulanya terbentuk dari jemaat Gereja Santo Antonius. Kegiatan amal Lemari Nasi sendiri telah berlangsung selama tujuh tahun.
Setiap hari terdapat lebih dari 200 porsi nasi bungkus yang didistribusikan. Namun sejak muncul pagebluk Covid-19, pihak gereja menyediakan sedikitnya 250 porsi. “Biasanya antrean terdiri atas masyarakat kurang mampu, gelandangan, pengemis, tukang becak, ojek online dan sebagianya,” jelasnya.
Meski diprakarsai oleh Kobar, kegiatan ini juga diikuti oleh berbagai komunitas di DIJ. Melalui kerja sama lintas ras, suku agama, dan golongan, kegiatan ini telah menunjukkan toleransi dan nilai kebinekaan di DIJ.
“Anggota kita macam-macam. Mahasiswi UIN juga banyak. Saya senang sekali ketika melihat mahasiswi berjilbab lebar itu boncengan naik motor dengan suster berkerudung. Indah sekali. Teman-teman dari HKBP Kristen dan dari jamaah Masjid Syuhada, saling bekerjasama juga,” jelas Romo Maharsono.
Adapun sumber dana kegiatan yang telah berjalan selama tiga tahun ini berasal dari donasi berbagai kalangan. Tidak hanya dari umat Kristen, namun juga dibantu oleh masyarakat umum. “Dananya sumbangan dari banyak orang. Ya orang Katolik, Islam, Buddha, Kristen, dan masyarakat umum,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, komunitas juga turut mengedukasi masyarakat terkait protokol pencegahan virus korona. Relawan menerapkan disiplin yang tinggi kepada para pengantre untuk tetap menjaga jarak, dan memakai masker jika akan masuk ke lokasi pengambilan nasi bungkus. Dengan edukasi kecil seperti itu, dia berharap kesadaran masyarakat menjadi terbangun dan disiplin diri bisa menjadi budaya dan kebiasaan.
“Ini adalah potret masyarakat, banyak yang belum sadar. Kita sosialisasi dan pakai aturan tegas, kalau masuk harus pakai masker. Kalau nggak punya, ya kita kasih. Dengan seperti ini hati kita sebagai manusia agar tetap terjaga dan tergerak untuk menolong siapa pun dengan cara yang kita bisa,” ungkapnya.
Pengemudi ojek online Wahyudi, 42, menjadi salah satu penerima bantuan nasi bungkus. Dia mengaku sedikit terbantu dengan adanya program amal itu. Akibat wabah korona, penghasilannya merosot drastis. “Biasanya hari normal bisa sampai Rp 300 ribuan, tapi sekarang gak tentu. Rp 50 ribu itu sudah banyak,” tuturnya. (tor/laz/by)

Jogja Raya