RADAR JOGJA – Pemprov DIJ tidak memberlakukan sanksi maupun pelarangan bagi pemudik yang datang dari zona merah. Sebab, dasar hukum terkait skema pelarangan belum diresmikan oleh pemerintah pusat. Sehingga yang dilakukan saat ini adalah memperketat pengawasan kendaraan dan menerapkan protap pencegahan Covid-19.

Kepala Dinas Perhubungan DIJ Tavip Agus Rayanto menegaskan, sesuai arahan pemerintah pusat, sejauh ini tak ada penutupan akses menuju ke DIJ. “Untuk Jogjakarta masih melaksanakan pendekatan persuasif, kami masih memperketat penerapan protokol kesehatan,” katanya usai video konfrensi dengan menteri perhubungan di Kompleks Kepatihan, kemarin (23/4).

Pemantauan dilakukan di tiga titik perbatasan yakni Jalan Solo (Prambanan), Jalan Magelang (Tempel), dan Kulonprogo (Congot). Penerapan sanksi dan denda bagi kendaraan yang akan memasuki wilayah DIJ hanya dapat diberlakukan oleh daerah yang telah menyandang status pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Pemerintah pusat bersama pemimpin daerah dikatakan masih melakukan pembahasan terhadap draf keputusan presiden (Keppres) tentang pengaturan mudik di daerah. Aturan itu belum disahkan hingga saat ini. “Kami masih menunggu Keppres. Kami lihat nantinya, apakah hanya berisi peraturan tentang (pelarangan dari) wilayah PSBB, ataukah juga termasuk yang non-PSBB,” jelas Tavip.

Jika Keppres nantinya tidak mengatur kedatangan kendaraan pribadi ke DIJ, maka dasar kebijakan yang diterapkan untuk melakukan pengawasan adalah tetap mengacu Peraturan Menteri Perhubungan No.18/Tahun 2020. Misalnya pembatasan kuota penumpang mobil dan penggunaan masker pada penumpang.

“Kalau misal melanggar, ya kami beri edukasi ke mereka atau preventif lainnya. Mereka akan diperiksa di posko kesehatan yang ada di perbatasan,” jelasnya.

Tavip melanjutkan, mulai hari ini (24/4) penerbangan di bandara, baik Yogyakarta International Airport (YIA) maupun Adisutjipto akan ditutup. Namun pengecualian berlaku untuk tamu negara, pejabat tinggi negara, dan hal-hal yang diatur dalam keputusan presiden. “Jadi moda transportasi hakekatnya tidak jalan,” tandasnya.

General Manager PT Angkasa Pura 1 Agus Pandu Purnama mengatakan, selama masa tanggap bencana, dua bandara internasional di DIJ tetap beroperasi. Namun ada pembatasan traffic penerbangan. Untuk YIA di hari normal bisa melayani sedikitnya 20 ribu penumpang. Namun kini hanya melayani 2000-an penumpang.

Adapun untuk Bandara Adisutjipto dari 1500-an penumpang kini merosot menjadi 200-an penumpang. “Ada penurunan sekitar 80 persen. (Pembatasan) sekitar sepekan lalu,” jelasnya.

Di Adisucipto hanya ada delapan pergerakan dari dua maskapai. Sedangkan YIA tercatat hanya 30 pergerakan per hari dari empat maskapai. “Pembatasan dilakukan mengikuti kebijakan beberapa daerah yang sudah memberlakukan status PSBB. Akses transporatsi udara terbatas,” tandasnya.

Pemeriksaan ketat terhadap penumpang juga dilakukan di bandara. Selain pemeriksaan kesehatan, penumpang diwajibkan mengisi manifes. Seperti identitas, riwayat perjalanan, serta tujuan akhir. Penumpang mengisi manifes sebelum berangkat ke daerah tujuan.

Adapaun untuk suspect korona, termasuk orang dalam pemantauan (ODP), dilarang menggunakan transportasi pesawat terbang. “Adapun untuk kebiijakan pemerintah pusat terkait penutupan bandara,  kami akan menyesuaikan,” tandasnya.  (tor/wia/laz)

Jogja Raya