RADAR JOGJA – Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ mengambil antisipasi situasi emergency dalam mengoperasikan dukungan Gugus Tugas Covid-19. Salah satu tugasnya di ranah mengambil jenazah, yaitu membantu tim medis Dinkes dalam percepatan pemakaman pasien dalam pengawasan (PDP) maupun positif Covid-19.

“Sebenarnya bukan ranah kami untuk mengantarkan jenazah. Kami hanya untuk percepatan penanganan jenazah. Ketika rumah sakit mengalami kendala, bisa kontak kepada kami,” kata Endro Sambodo dari Bidang Operasi Dukungan Gugus Tugas Covid-19 TRC BPBD DIJ kepada Radar Jogja di Posko TRC BPBD DIJ, Sabtu (18/4).

Dikatakan, masyarakat masih memikirkan Covid-19 itu seperti hantu, ketika melihat takut dan tidak berani melakukan penanganan baik penguburan dan lainnya.  Endro yang tahun 2015 lalu mengevakuai pendaki yang terjatuh di kawah Gunung  Merapi  ini menjelaskan, dalam tugasnya berupaya menghilangkan atau mereduksi ketakutan dari warga itu.

Pertama, melakukan sosialisasi dan penyemprotan di area tersebut, kemudian membantu pemakaman. “Ini agar gejolak warga tidak membesar,” ujarnya. Adapun yang melakukan pemulasaran jenazah di setiap rumah sakit (RS) itu sendiri.

Pemulasaran dilakukan sesuai prosedur jenazah infeksius. “Sebenarnya kalau jenazah aman, karena sudah dilakukan sesuai prosedur. Dibungkus kain kafan, bungkus plastik lagi, lalu masukkan ke dalam boks yang dipaku dan dimasukkan peti lagi,” jelasnya.

Petugas harus menggunakan baju hazmat atau alat pelindung diri (APD) lengkap untuk meminimalkan paparan terhadap petugas. Karena petugas berangkat menuju RS mengambil jenazah. Dari RS membawa peti jenazah hingga ke penguburan.

Endro menyebut, setiap bertugas mengantar dan memakamkan jenazah  ada enam personel dengan dua armada, satu ambulans untuk jenazah dan satu armada untuk personel. Tidak diperkenankan petugas satu ruangan dengan peti jenazah. “Kami mencoba meminimalkan paparan jenazah tersebut dengan petugas kami,” tambahnya.

Untuk pengiriman jenazah dibatasi waktunya, maksimal satu setengah jam. Jika lebih dari itu maka akan ada dua tim personel untuk rolling. Karena fisik dari petugas akan terkuras dengan mengenakan APD lengkap. “Pernapasan agak berat, dehidrasi dan lain-lain. Jadi ada tim cadangan untuk mengganti,” terangnya.

Tim relawan sudah standby satu bulan di posko TRC BPBD DIJ, tepatnya  sejak awal Maret lalu. Atas kesepakatan bersama, level dinaikkan menjadi level awas. Maka semua personel harus 24 jam standby dengan mekanisme rolling-an. Nanti disesuaikan jika ada petugas yang pulang, maka ada yang menggantikan.

Adapun yang standby emergency atau standby tim 1, 2, dan 3 untuk proses evakuasi, maka imbauannya agar tetap stay di posko. “Karena kami nggak tahu waktunya dadakan. Kadang-kadang satu hari full tidak ada penjemputan jenazah, tapi kadang satu hingga lima jenazah juga pernah per hari,” ungkapnya.

Dalam menjaga daya tahan tubuh, mereka rutin terpenuhi asupan nutrisi dan energi. Juga ada cek medis dan suhu secara berkala dan memberikan vitamin. Cek suhu tubuh rutin dilakukan terhadap relawan yang terlibat proses evakuasi tiap pagi, siang, dan sore.

Ketika suhunya mendekati 37 derajat, akan diminta istirahat dan per enam jam cek lagi. “Kami juga ada perawat dan dokter. Cuma sampai saat ini belum ada, karena kami ketat dalam pembatasan suhu tadi. Kalau mendekati 37 derajat, langsung harus istirahat,” katanya.

Komandan TRC BPB DIJ Wahyu Pristiawan menambahkan, data yang masuk selama sejak 30 Maret sampai 17 April lalu sudah memakamkan 21 jenazah berstatus baik PDP maupun Covid-19. “Yang kami ambil yang dari rumah sakit,” katanya.

Dia menjelaskan, dalam mengambil jenazah ke RS, persoalannya terkadang harus mencari makam lebih dulu. Fungsi konsolidasinya dimanfaatkan dengan menjalin komunikasi terhadap pihak keluarga pasien yang meninggal, untuk menjadi mediator ke aparat kampung bahwa penguburan bisa dilakukan di kampungnya sesuai alamat jenazah.

Ini dilakukan untuk memperlancar segala urusan. “Situasinya sekarang sudah sampai ke situ. Jadi tidak sekadar kita dipanggil rumah sakit dan makam sudah tersedia. Justru yang lama di proses komunikasi untuk menyiapkan makam,” jelas Wahyu yang menyebut prosesnya bisa antara 1-2 jam.

Dia berharap kepada pemerintah daerah dalam penanganan Covid-19 bisa berkoordinasi dengan baik dan pengambilan keputusan cepat. Sehingga bisa diupayakan dalam penanganan pencegahan wabah korona ini bisa tepat sasaran. “Ketika ada kendala, dalam mengambil keputusan harus menunggu agak lama,”  tambahnya. (wia/laz)

Jogja Raya