RADAR JOGJA – Jogjakarta belum merasakan dampak penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Terutama untuk angka kunjungan pendatang dari sejumlah pintu masuk. Salah satu penyebabnya adalah adanya jaminan hidup bagi perantau yang tinggal di Jogjakarta.

Sekretaris Provinsi (Sekprov) Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji memastikan tidak ada lonjakan pemudik pasca PSBB DKI Jakarta. Berdasarkan pemantauan lapangan, volume kendaraan justru menurun. Sebagai perbandingan adalah arus kendaraan pada hari normal.

“Efek PSBB di Jakarta sampai hari ini belum ada efek penambahan orang datang ke Jogjakarta. Justru Jumat (10/4) sampai hari ini, apalagi saat operasi itu tidak terlalu banyak orang luar Jogjakarta masuk sini (Jogjakarta), beda dengan dulu (sebelum PSBB di Jakarta),” jelasnya ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Selasa (14/4).

Mantan Kepala Disdikpora DIJ ini mengapresiasi program Pemprov DKI Jakarta dan pemrintah pusat. Berkurangnya pemudik merupakan imbas program jaminan hidup. Hal tersebut membuat para perantau menaati aturan. Khususnya untuk tidak keluar rumah selama Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) melanda.

“Harapannya, karena sudah dijamin Pemerintah DKI dan Pemerintah Pusat, mudah-mudahan mereka sudah jenak di sana dan untuk tidak kembali ke Jogjakarta atau daerah lain saat PSBB,” katanya.

Kepala Dishub DIJ Tavip Agus Rayanto membenarkan adanya penurunan pemudik yang datang ke Jogjakarta. Hal itu merujuk data yang ia peroleh dari beberapa Terminal. Dua patokan utama adalah Terminal Jombor, Sleman dan Terminal Wates, Kulonprogo.

Data ini masih diakumulasikan dengan jumlah penumpang yang turun di Stasiun Kereta Api dan Bandara. Dari data yang ada, terdapat penurunan drastis penumpang. Bahkan untuk KAI telah membatalkan 142 relasi perjalanan kereta api.

“Tidak ada lonjakan pemudik, itu berdasarkan data manual dari Terminal Jombor dan Wates. Lalu untuk penumpang kereta api dan pesawat juga turun. Untuk terminal Giwangan, Jogja dan Wonosari, Gunungkidul punya UPT Pusat, tapi tetap saya tanyai satu-satu untuk datanya,” ujarnya.

Di satu sisi ada peningkatan volume kendaraan di wilayah perkotaan Jogja. Arus ini mulai didominasi oleh kendaraan bermotor roda empat. Tak hanya plat nomor Jogjakarta tapi juga pelat nomor luar Jogjakarta.

Kepala Dishub Kota Jogja Agus Arif Nugroho menuturkan, lonjakan tersebut bukan semata akibat masuknya pendatang. Mayoritas justru warga yang berdomisili di Jogjakarta. Salah satu penyebabnya adalah untuk mencari kebutuhan hidup.

“Terminal Giwangan angka penumpangnya turun drastis. Dari total yang turun hanya sekitar 20 orang yang masuk Kota Jogja. Kalau untuk kendaraan di ruas jalan itu masih warga Jogjakarta. Mereka keluar untuk mencari kebutuhan pangan,” katanya. (dwi/ila)

Jogja Raya