RADAR JOGJA – Iklan enamal kini menjadi barang antik dan langka. Sekarang sudah jarang, bahkan nyaris tak ada iklan yang dibuat dalam bentuk tiga dimensi itu. Muhammad Abdullah Basalamah, pria asal Umbulharjo, Kota Jogja, mengoleksi barang-barang unik tersebut.

JIHAN ARON VAHERA, Jogja, Radar Jogja

Sudah sejak 25 tahun lalu Abdullah mulai mengoleksi iklan enamal. “Dulu banyak. Tapi kalau ada dobel, biasa ada yang kepingin. Kadang berbagi. Sekarang paling tinggal sekitar 120-an,” katanya kepada Radar Jogja (10/4).

Iklan yang dikoleksi antara lain iklan rokok klobot kretek Tjap Tjetjak buatan Djopawiro Pawiroredjo, Java Bier, Stokvis Nederlandsche Kroon, Socony, Lux Toilet Zeep, Sunlight Zeep, dan masih banyak lagi. “Ukuran tiap iklan berbeda-beda. Ada yang ukuran kecil, sedang, dan juga besar,” ungkapnya.

Iklan enamel sendiri sudah tergerus zaman. Apalagi kini sudah beralih ke iklan-iklan bergerak yang lebih modern. Untuk mencari iklan enamel pun menjadi susah. Abdullah juga merasakan hal tersebut.

“Ya, sekarang cukup susah. Sudah zaman keterbukaan orang bisa mengetahui semua lewat medsos, dan banyak yang mencari. Sementara barangnya terbatas,” keluhnya.

Tak jarang banyak orang yang memalsukan benda itu karena saking langkanya. Bagi orang awam, untuk membedakan yang asli dan palsu pun juga susah. “Kalau belum pengalaman, bisa kena tipu,” jelasnya.

Yang jelas, kata Abdullah, untuk mengenali asli atau palsu bisa dilihat dari cat dan ciri khasnya. Jika sudah terbiasa akan mudah mengetahui. Jenisnya pun berbeda-beda.

Objek iklan enamel yang beredar di Indonesia atau ned indie mempunyai ciri khas tersendiri. “Jadi kalau ada yang bawa iklan enamel dari luar negeri dan belakangan ini banyak beredar, jelas berbeda,” kata Abdullah.

Ia menceritakan, pada waktu itu iklan enamel merupakan industri dan teknologi yang datang dari Eropa. Masuk ke Indonesia bersamaan dengan inovasi produk industri barat yang mengiklankan produk mereka lewat media iklan enamel.

Dijelaskan, iklan enamel sebenarnya media iklan luar ruang yang ditempelkan atau diletakkan di depan toko atau di jalanan. Kebanyakan terdapat di kota-kota besar. “Paling banyak dulu kota yang menjadi tempat tinggal orang Eropa, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Malang, Semarang, dan sebagainya,” ungkapnya.

Benyamin Baugh, pria asal Inggris pada 1889 mendirikan perusahaan pertama pembuat papan iklan enamel. “Perusahaanya bernama Patent Enamel Company Limeted,” sebutnya.

Keunikan dari iklan ini yakni saat proses pembuatannya.  Proses pembuatannya harus dengan cara dibakar dengan suhu 700 sampai 850 derajat Celcius. Warna-warna dan objeknya juga menarik, menggambarkan kehidupan sosial masyarakat pada masa itu. “Plat yang dipakai juga tebal, tidak mudah rusak. Hingga sekarang pun masih ada dan awet,” tandasnya.

Tidak jarang benda itu dapat dijadikan pengingat sejarah pada zaman dulu. Abdullah mengoleksi enamel kali pertama yakni iklan Soesoe Tjap Nonna. Dia menyimpannya sesekali untuk dipamerkan di event-event tertentu. (laz)

 

Jogja Raya