RADAR JOGJA – Sekitar 100 relawan saling berkolaborasi dan bekerja sama untuk melawan Covid-19. Mereka tergerak hatinya, saling mengulurkan tangan membantu masyarakat yang sedang berjuang di tengah pendemi korona ini. Mereka menamai aksi solidaritas itu dengan nama Dapur Aksi Berbagi (DAB).
Koordinator tim dari DAB Ignasius Kendal menyampaikan, donatur datang dari kalangan seniman, pengusaha, tokoh masyarakat, dan lain-lain. Mereka bersama-sama berbagi untuk yang lebih membutuhkan. “Yang kami distribusikan adalah sembako dan makanan siap saji,” jelas Kendal kepada Radar Jogja, kemarin (6/4).
Mereka sudah berproses untuk melakukan aksi mulia itu sejak akhir-akhir Maret lalu. “Baru mulai 1 April kami turun ke jalan untuk membagikan makanan siap santap dan sembakonya,” katanya.
Kendal menyampaikan, aksi itu merupakan salah satu bentuk support kepada masyarakat yang terus berjuang untuk tetap survive di tengah pagebluk korona. Agar mereka tetap semangat dan terus menjalankan aktivitasnya dengan penuh keikhlasan dan semangat.
Tim dari DAB turun ke jalan membagikan makanan dan sembako dalam operasi harian. “Setiap malam saya dan beberapa tim sudah membuat rencana untuk hari esok sasaran kami siapa. Ada kurang lebih 200 boks makanan siap santap per hari yang harus kami distribusikan,” tuturnya.
Kendal dan tim membagikan sumbangan dari para donatur dengan priritas masyarakat yang mengalami dampak besar wabah korona ini. Seperti orang-orang yang bekerja di jalanan. “Tukang becak, tukang parkir, pengamen waria, anak-anak jalanan, dan lain-lain,” paparnya.
Tak hanya itu, mereka juga membagikan kepada para pekerja lepas, kontrak atau outsourcing. Seperti tenaga cleaning service rumah sakit, pekerja seni, dan sebagainya. “Juga anak-anak indekos seperti mahasiswa dari luar daerah yang tetap tinggal di Jogja karena sedang menempuh UTS,” tambahnya.
Menurutnya, wabah korona sangat berdampak besar bagi masyarakat, sehingga perlu ada gerakan solodaritas dari masyarakat untuk saling membantu. “Kini perekonomian rakyat menjadi lesu. Rantai ekonomi, mulai petani hingga pasar tradisional, pemilik warung mengalami kelesuan. Semoga ini tidak berkepanjangan,” harapnya. (cr1/laz/by)

Jogja Raya