RADAR JOGJA – Gerakan sosial wujud empati atas penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Jogjakarta terus bermunculan. Tak hanya di bidang medis tapi juga dalam bantuan logistik konsumsi. Baik untuk warga maupun tenaga dukungan medis informal.

Salah satunya adalah gerakan Dapur Aksi Bergerak. Fokusnya pada distribusi makanan siap santap dan ragam sembako. Sasarannya adalah sektor pekerja informal dan mahasiswa di Jogjakarta.

“Aksi solidaritas para pegiat seni dan budaya di Jogjakarta. Melihat situasi saat ini yang membuat kondisi perekonomian terpuruk. Imbasnya kepada pemenuhan kebutuhan sehari-hari,” jelas inisiator Dapur Aksi Bergerak, Ignasius Kendal ditemui di Kedai Yuk Makan, Selasa (7/4).

Pria yang aktif di Laboratorium Antropologi UGM ini menuturkan latar belakang gerakan. Berawal dari semangat gotong royong dari seluruh elemen masyarakat. Seluruhnya berkolaborasi untuk membantu warga terdampak Covid-19.

Sasaran dari gerakan ini di antaranya para pekerja seni dan pekerja jalanan. Terutama yang tidak memiliki sumber penghasilan tetap. Sehingga sangat mengandalkan roda perekonomian harian.

“Kami juga berdayakan para petani untuk gerakan ini. Seluruh sembako kami suplai dari petani muda asal Sleman dan Menoreh. Ada pula dari pedagang grosir lokal,” katanya.

Semangat gerakan ini menurutnya sangat mencerminkan Jogjakarta sesungguhnya. Berupa wujud gotong royong dalam kondisi apapun. Bahkan tak memperdulikan kondisi pribadi untuk tetap saling membantu.

“Jogja banget, hanya bermodal kepedulan sosial. Berbagi dengan kemampuan masing-masing dan ini jadi nilai lebih bagi Jogjakarta. Keinginan untuk berbagi itu besar sekali dan kami hanya membantu untuk menyalurkan,” ujarnya.

Dapur Aksi Berbagi ini juga berkoordinasi dengan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ. Tujuannya untuk mengoptimalkan bantuan kepada pihak yang membutuhkan. Terutama yang belum terjangkau bantuan dari pemerintah.

Koordinasi ini juga mengantisipasi adanya jeda waktu. Kendal tak menampik bahwa ada masanya jeda waktu. Dimana bantuan dari pemerintah terhenti karena terpentok birokrasi. Inilah yang menjadi kesempatan penggawa gerakan sosial untuk saling membantu.

“Jadi ada koordinasi tidak hanya kami tapi juga gerakan sosial lainnya. Agar tertata dan tepat sasaran. Saat ini kami mendistribusikan 200 pax makanan santap saji setiap harinya. Untuk sembako sudah 200 pax dalam Minggu ini,” katanya. 

Untuk sembako berisikan paket keluarga kecil. Berupa beras 2 kilogram, telur dan gula 1 kilogram, minyak goreng 1 liter dan rempah-rempah. Paket ini mampu mencukupi kebutuhan keluarga selama satu Minggu. 

“Kalau makanan siap santap dimasak di Kedai Kebun Forum dan Ayam Ungkep. Belum lama ini juga ada donasi aqiqoh anak,” ujarnya. (dwi/tif)

Jogja Raya