RADAR JOGJA – Berdasarkan data Gugus Tugas Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Pemprov DIJ, beberapa kasus pasien meninggal bukan semata akibat Covid-19. Data menyebutkan adapula riwayat penyakit penyerta atau komorbid. Dalam dunia medis adanya komorbid berdampak signifikan terhadap proses kesembuhan pasien.

Kepala Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jogjakarta Irene mengakui adanya dampak komorbid dalam proses penyembuhan pasien Covid-19. Bahkan keberadaan komorbid dapat memperburuk kondisi saat terinfeksi virus corona Covid-19.

“Orang yang lebih tua, dan mereka yang memiliki penyakit penyerta sebelumnya (komorbid) seperti tekanan darah tinggi, jantung, diabetes, kanker, menimbulkan kematian lebih besar dibandingkan mereka yang tanpa komorbid,” jelasnya, Senin (6/4).

Keberadaan Covid-19 dalam tubuh diakui Irene sangatlah rentan. Hanya tak semua komorbid ikut menambah faktor risiko. Menurutnya, hanya jenis penyakit kronis yang dapat mengancam sistem imunitas tubuh.

“Tergantung penyakit lamanya apa. Jika penyakit kronis, maka kaitannya dengan virus ini (Covid-19) adalah menurunnya daya tahan tubuh (imunitas) sehingga virus ini menginfeksi lebih berat,” katanya.

Irene berpesan agar tak perlu khawatir dalam menghadapi Covid-19. Selama tubuh dalam kondisi fit dan sehat maka keberadaan virus bisa dilawan. Tentunya dengan menjaga pola konsumsi dan aktivitas keseharian.

Pola ini juga tergantung dari setiap individu dalam menjaga kesehatan. Terutama yang memiliki komorbid sejak masa lampau. Sehingga pola kesehatan juga terfokus pada pengendalian faktor penyebab komorbid.

Irene turut meminta agar masyarakat menjaga konsumsi seimbang. Lalu beraktivitas fisik rutin seperti senam ringan. Menjaga kualitas istirahat tubuh yang cukup dan minum suplemen vitamin. Terakhir adalah tidak merokok baik aktif maupun pasif.

“Mengendalikan komorbid dengan pola gaya hidup yang sehat. Seperti diabetes, hipertensi atau kanker itu kan ada faktor pemicunya. Inilah yang ditekan agar komorbid bisa landai dan tidak over,” ujarnya.

Terkait kemungkinan pasien Covid-19 tertular kembali, bisa terjadi. Hanya saja imunitas tubuh telah mengenali virus. Selanjutnya tubuh manusia akan membuat antibodi. Wujud adaptasi imunitas dengan mengembangkan sistem pertahanan kekebalan terhadap virus.

Irene menjelaskan, antibodi menyimpan ingatan tubuh tentang cara melawan virus. Sehingga tubuh bisa melawan apabila tertular kembali. Dengan catatan telah mendapatkan vaksin atau setidaknya pernah terjangkiti virus yang sama.

“Yang sudah sembuh menjadi sakit lagi biasanya disebabkan karena ketularan lagi. Seseorang dapat terinfeksi virus yang sama lebih dari sekali. Virus juga cenderung memiliki banyak jenis. Tapi presentase kesembuhan lebih cepat dan besar dibanding yang baru terjangkit,” ujarnya. (dwi/ila)

Jogja Raya