RADAR JOGJA – Nilai kesakralan Jogjakarta adalah jiwa gotong royong yang kuat. Walau terjadi bencana, semangat inilah yang mampu menopang dan membuat Jogjakarta bertahan. Inipula yang diadaptasi oleh Dapur Aksi Berbagi. Sebuah gerakan yang lahir di tengah pandemik Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Salah satu inisiator Dapur Aksi Berbagi Bambang Paningron mengamini prolog tersebut. Gerakan ini melibatkan lintas elemen masyarakat. Sasarannya adalah para pekerja sektor informal maupun perantau yang berdomisili Jogjakarta.

“Ini cilik-cilikan tapi dari gerakan cilik ini harapannya bisa membantu. Jelas ini bukan hanya Pemerintah, kalau mereka (pemerintah) gerak sendiri sudah tidak mampu,” jelasnya, Senin (6/4).

Berbicara ruh Indonesia, Jogjakarta khususnya sangatlah erat akan budaya gotong royong. Adanya Covid-19, menurutnya, turut menjadi hikmah  dan bukti bahwa momentum ini menjadi ajang saling membantu.

“Kalau mau bicara hikmah, kehidupan Indonesia ditopang dari gotong royong. Seperti momentum gempa Bantul 2006 itu, sama-sama membangun. Sek luwih ngekei sek kurang,” katanya.

Gerakan ini terbagi dalam dua skema. Pertama adalah pembagian sembako dengan sasaran keluarga. Berupa beras, telur, gula, minyak, susu dan ragam rempah-rempah.

Skema kedua adalah pembagian makanan siap saji. Sasarannya adalah pekerja informal yang ditemui di jalan. Seperti buruh gendong, tukang becak, tukang parkir, asongan hingga loper koran.

“Sektor informal itu terdampak paling parah. Karena penghasilan mereka harian, dapat hari itu buat makan hari itu juga atau besoknya. Kalau sepi seperti ini, mereka tak ada pemasukan,” katanya.

Sektor lain yang ikut terdampak adalah pekerja seni. Tak ubahnya sektor informal, profesi ini tak memiliki pemasukan tetap. Satu-satunya penghasilan adalah apresiasi atas unjuk karya atau penjualan karya seni.

“Area (Jogjakarta) selatan banyak seniman terdampak. Keseharian sudah pas-pasan, ada kayak gini sudah tidak karuan. Sebagai contoh para penari purawisata sudah berhenti, maka income mereka juga berhenti. Ini juga jadi perhatian kami,” ujar Bambang.

Dapur Aksi Berbagi merupakan rencana berkala. Tahapan awal berlangsung hingga penghujung April. Pemerhati seni dan budaya ini tak menampik suatu waktu akan terhenti. Ini karena nyawa dari gerakan ada kepedulian bersama dan gotong royong. Apabila donasi berlanjut maka keberlangsungan gerakan tetap langgeng. Berlaku sebaliknya apabila mulai minim bantuan dari penyokong. Mau tak mau gerakan ini berhenti di tengah jalan.

Gerakan ini juga melibatkan para petani. Seluruh sembako dibeli langsung dari para petani. Mayoritas adalah petani asal Kabupaten Sleman. Harapannya gerakan ini juga mampu menggerakkan perekonomian para petani.

“Penyokong juga terbatas karena semua mengalami dan merasakan (dampak Covid-19). Tapi kemudian ketika gerakan ini berjalan butuh validasi siapa yang sifatnya kepedulian. Kalau tidak ada ya berhenti di tengah jalan. Tapi disatu sisi permintaan (bantuan) juga semakin banyak,” ceritanya.

Dapur Aksi Berbagi ini memiliki dua posko utama. Posko utama berada jalan C. Simanjuntak. Tepatnya Kedai Makan Yuk atau selatan Mirota Kampus. Posko ini merupakan tempat distribusi ragam sembako.

Posko kedua berada di Kedai Kebun Forum (KKF) untuk kegiatan memasak. Selanjutnya didistribusikan secara mobilitas dengan mengitari Jogjakarta atau berdasarkan data.

“Sembako dari pagi sudah packing. Biasanya 100 paket yang dibagikan. Kalau makan siap saji ada 150 paket. Yang terlibat lintas profesi, mulai dari seniman, mahaiswa, organisasi sosial, komunitas hingga individu,” katanya. (dwi/tif)

Jogja Raya