RADAR JOGJA – Sekelompok mahasiswa dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNY meneliti daun jambu air dengan nanopartikel perak untuk dibuat sabun pencuci tangan. Mereka terdiri atas Laatifah yang berasal dari Prodi Fisika, Dian Saputra (Pendidikan Biologi) dan Ulfa Fitri Rohmatin (Kimia).

Sabun cair dari bahan ekstrak daun jambu air dipilih karena mengandung beberapa senyawa aktif. Berupa flavonoid, saponin, alkaloid dan triterpenoid. Salah satu dari senyawa itu, yakni senyawa saponin memiliki manfaat sebagai pembersih atau antiseptik.

Daun jambu air juga dikenal sebagai salah satu obat tradisional. “Untuk menyembuhkan beberapa infeksi akibat antigen berupa bakteri,” kata Laatifah.

Nanopartikel perak yang digunakan, umumnya memiliki sifat yang bertoksik rendah. Ion perak bersifat netral dalam air, tahan asam, garam, dan berbasa lemah. Nanopartikel memiliki banyak kegunaan, antara lain, sebagai pectrom, katalis, zat pelapis permukaan, dan antibakteri.

Ulfa mengatakan, sabun cuci tangan dari daun jambu air itu dibuat melalui beberapa tahap. Langkah pertama, diawali dengan mengekstrak daun tanaman bernama latin syzygium aqueum itu, dengan teknik maserasi. Yaitu dengan menimbang 100 gram serbuk daun jambu air dan merendamnya menggunakan 500 mililiter methanol selama 5 hari.

Selanjutnya menyaring larutan sehingga diperoleh maserat dan dipekatkan menggunakan rotary evaporator pada suhu 79 derajat celcius dan diperoleh ekstrak kental. Lalu, sintesis nanopartikel perak, 0,5 gram bubuk perak nitrat (AgNO3) dilarutkan dalam 500 mililiter aquades.

“10 mililiter larutan AgNO3 diambil dan dipanaskan selama 10 menit, kemudian diangkat dan ditambahkan 3 tetes natrium sitrat 1 persen ke dalam larutan AgNO3,” jelasnya.

Larutan dipanaskan kembali hingga sampel berwarna kekuningan. Pembuatan sabunnya sendiri dimulai dari penimbangan padatan KOH (Kalium Hidroksida) sebanyak 50 gram, kemudian diencerkan sampai 100 mililiter. Sebanyak 33 mililiter larutan KOH diambil dan dipanaskan pada suhu 75 derajat celcius selama 10 menit.

Sedangkan 15 mililiter minyak VCO (Virgin Coconut Oil) dipanaskan pada suhu 75 derajat celcius selama lima menit dan didinginkan. Larutan KOH dan minyak VCO dicampur dan dipanaskan sambil diaduk sampai berbentuk padatan. Kemudian ditambahkan gliserin, nanopartikel perak, ekstrak serta aquades.

Pemilihan KOH sebagai bahan pembuatan sabun adalah karena jika digunakan untuk hand wash atau sabun pencuci tangan, maka KOH lebih mudah larut dibanding dengan NaOH. Sedangkan alasan penggunaan VCO karena miliki kandungan asam lemak yang menguntungkan kulit dibandingkan dengan minyak lainnya. “Warna VCO yang bening, jernih serta mudah larut dalam air,” ungkap Ulfa.

Penambahan gliserin pada sabun berfungsi sebagai pelembut. Penggunaan gliserin pada pembuatan hand wash dikarenakan gliserin adalah produk samping dari reaksi hidrolisis antara minyak nabati dengan air untuk menghasilkan asam lemak. Gliserin merupakan humektan, sehingga dapat berfungsi sebagai pelembap pada kulit. Pada kondisi atmosfer sedang ataupun pada kondisi kelembaban tinggi, gliserin dapat melembabkan kulit dan mudah dibilas. (eno/laz)

Jogja Raya