RADAR JOGJA – Sebanyak 99 narapidana penghuni Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II B Cebongan, Sleman, dinyatakan bebas bersyarat. Jumlah itu merupakan jatah dari asimilasi 30 ribu napi oleh Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) karena wabah Covid-19.

Dengan asimilasi itu para napi pun dapat menghirup udara bebas lebih cepat. Serta tidak perlu menyelesaikan masa tahanan sesuai dengan keputusan hakim pada saat persidangan.

Kasubsi Registrasi dan Bimbingan Kemasyarakatan Lapas Cebongan Rajindra Pragnya mengatakan, pada 1 April 2020 setidaknya sudah ada 23 napi yang bebas bersyarat. Sedangkan untuk jumlah narapidana yang diajukan asimiliasi ada 99 orang.

Adapun syarat asimilasi yang dimaksud, dijelaskan Rajindra, bagi narapidana yang 2/3 masa kurungannya akan berakhir pada 31 Desember mendatang. Total ada 99 napi yang diajukan agar masuk dalam asimilasi ini.

“Per 1 April kemarin ada 23 narapidana yang sudah dibebaskan. Sisanya masih dalam proses pengurusan administrasi,” katanya saat dikonfirmasi Kamis (2/4).

 

Sementera itu, puluhan napi Lapas Kelas IIB Wonosari bebas bersyarat. Para tahanan akan menjalani masa asimilasi di lingkungan rumah masing-masing.

Kepala Sub Seksi Pelayanan Tahanan, Lapas Kelas IIB Wonosari Ardiyana mengatakan, Lapas Wonosari ada 100 warga binaan. Tidak semua mendapatkan keringanan, karena kebijakan itu hanya diberikan kepada warga binaan yang telah menjalani minimal 2/3 hukuman sesuai keputusan pengadilan.

“Sudah ada 27 napi mendapatkan pembebasan bersyarat. Tapi tidak menutup kemungkinan jumlahnya bisa bertambah,” kata Ardiyana saat dihubungi Kamis (2/4)

Dia menjelaskan, meski bebas mereka harus menjalani proses asimilasi dan integrasi sesuai dengan ketentuan. Selain itu, pengawasan melibatkan tim dari Badan Pemasyarakatan dan Kejari Gunungkidul.

Sementara Kepala Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Jogjakarta Teguh Suroso mengatakan, tiga anak binaan mendapatkan pembebasan bersyarat melalui proses asimilasi. “Ini berarti anak-anak akan menjalani masa pidana di rumah masing-masing dengan pengawasan dari Bapas,” katanya.

Menurutnya, asimilasi diberikan sebagai upaya mencegah penyebaran virus korona di lingkungan LPKA. Selama asimilasi, orang tua anak binaan wajib lapor melalui video call. Dengan demikian, aktivitas anak dapat dimonitor setiap saat. (gun/laz)

Jogja Raya