RADAR JOGJA – Gunung Merapi erupsi pukul 10.56 kemarin (27/3). Erupsi itu memicu hujan abu yang mengguyur sebagian wilayah Kecamatan Dukun dan Kecamatan Sawangan di Kabupaten Magelang.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Hanik Humaida menjelaskan, letusan terekam di seismograf dengan amplitudo 75 mm dan durasi 7 menit. ”Awan panas diperkirakan terjadi sejauh dua kilometer di sektor selatan-tenggara,” jelasnya saat dihubungi Jumat (27/3).

Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) diterbitkan dengan kode warna merah. Angin saat letusan terjadi mengarah ke arah barat baya.

Hujan abu dilaporkan terjadi dalam radius 20 kilometer dari puncak. Terutama pada sektor barat menjangkau wilayah Kecamatan Mungkid di Kabupaten Magelang.

Hujan abu bercampur pasir halus terjadi di wilayah Desa Banyubiru, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Jarak desa itu sekitar 15 kilometer dari puncak Merapi.

Letusan tidak didahului prekursor yang jelas. Seismisitas pada 26 Maret mencatat terjadi gempa MP 2 kali dan RF 1 kali. Sedangkan juga deformasi tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.

”Data observasi ini menunjukkan bahwa menjelang letusan tidak terbentuk tekanan yang cukup kuat karena material letusan didominasi oleh gas vulkanik. Kejadian letusan semacam ini masih dapat terus terjadi sebagai indikasi bahwa suplai magma dari dapur magma masih berlangsung,” jelasnya.

Ancaman bahaya letusan ini berupa awan panas dan lontaran material vulkanik dengan jangkauan kurang dari 3 kilometer berdasarkan volume kubah sebesar 291.000 meter kubik berdasarkan data drone pada 19 Februari lalu. ”Masyarakat untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa di luar radius 3 km dari puncak Gunung Merapi,” jelasnya.

Kepala Unit Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Magelang Edy Susanto menjelaskan, pihaknya mencatat di Kecamatan Dukun terdapat 7 desa yang terdampak hujan abu. Yakni, Desa Krinjing, Desa Sewukan, Talun Desa, Desa Dukun, Desa Ngadipuro, Desa Ngargomulyo, dan Desa Sengi.

Kepala Desa Dukun Tanto Heryanto menyatakan hujan abu disertai pasir terjadi di Desa Dukun sekitar pukul 11.02. “Teman-teman di Krinjing, Sumber, Keningar, dan Ngargomulyo melaporkan kalau hujan abu,” ujarnya.

Data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta, ketinggian kolom mencapai 5.000 meter dari puncak.

Kepala BPPTKG Jogjakarta Hanik Humaida memastikan aktivitas ini normal. Erupsi tersebut tercatat di seismogram dengan amplitudo 75 mm dan durasi tujuh menit. Untuk visual hanya tertangkap oleh kamera pemantau BPPTKG yang terpasang di Pasar Bubrah.
“Erupsi terjadi siang tepatnya pukul 10.56. Kolom erupsi tercatat cukup tinggi hingga 5000 meter. Visual hanya terpantau dari sisi utara, karena puncak sisi selatan tertutup awan,” jelasnya, Jumat (27/3).

Erupsi ini merupakan kali kedua di medio Maret. Erupsi sebelumnya terjadi Selasa (3/3) subuh tepatnya 05.22. Saat itu ketinggian kolom erupsi mencapai 6.000 meter dari puncak. Sementara arah luncuran awan panas guguran ke arah Kali Gendol sejauh maksimal 2 kilometer.
Aktivitas ini tercatat dalam seismogram milik BPPTKG Jogjakarta dan seluruh Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM). Besaran amplitudo mencapai 65 milimeter. Untuk durasi aktivitas erupsi Merapi mencapai 450 detik. (asa/dwi/amd)

Jogja Raya