RADAR JOGJA – Hujan lebat yang mengguyur Jogjakarta Rabu(11/3) membawa dampak banjir dan longsor di berbagai titik, terutama di wilayah kota. Yang terparah adalah banjir di Kampung Klitren Lor (Gondokusuman) dan longsor di Jlagran (Gedongtengen).

Di wilayah Klitren Lor, banjir setinggi betis orang dewasa akibat Kali Belik yang meluap. Warga pun dibuat kalang kabut karena harus menyelamatkan barang-barang miliknya, karena air tiba-tiba datang dan langsung tinggi.

Tri Ari Prastanti, warga yang tinggal di RT 03, RW 01 Klitren Lor menceritakan, air dari Kali Belik masuk ke permukiman sekitar pukul 14.00. Saat itu ia sedang menggosok baju. “Baru gosok baju, eh air tiba-tiba sudah masuk dari arah sungai,” kata pemilik laundry yang rumahnya tak jauh dari sungai itu.

Ia menjelaskan setelah 10 menit kemudian datang air deras lagi dari sisi utara, melewati gang arah Kali Belik. Akibatnya, dia tidak dapat mengendalikan karena air langsung masuk rumah dan beberapa fasilitas pun ikut hanyut.

Satu buah mesin cuci, lima tabung gas ukuran 3 kilogram, lima jemuran hanyut dan rusak. Ditambah kaca pintu rumah untuk usaha laundry juga pecah danrusak. “Kejadiannya cepat, cuma berapa menit air datang kayak air bah gitu,” cerita perempuan 55 tahun ini sembari menyebut banjir dahsyat ini baru kali pertama terjadi.

Ketua RT 02, RW 01 Klitren Lor Darwanto mengatakan, banjir terjadi pukul 14.00 bersamaan masih terjadinya hujan deras di wilayahnya. Meluapnya Kali Belik ditambah arus yang kencang, mengakibatkan tanggul bangunan lama jebol karena tidak mampu menahan arus air.

“Tanggul jebol. Curah hujan tinggi, air meluap yang merupakan kiriman ari utara,” kata Darwanto. Ia mengatakan, wilayah yang terdampak banjir berada di tiga RT yakni RT 02 (44 keluarga), RT 03 (17 keluarga), dan RT 4 (70 keluarga).

Kebanyakan warga terdampak karena kemasukan air, mobil hanyut, maupun beberapa fasilitas warga yang rusak. “Kemarin-kemarin hujan tidak sampai seperti ini. Benar-benar besar ini, jadi warga nggak ada persiapan,” ujarnya.

Sekretaris RT 03 RW 01 Bayu Marwanto menambahkan, tanggul yang rusak sepanjang lima meter berada di wilayahnya. Itu merupakan tebing tinggi sisa bangunan rumah-rumah warga yang dirobohkan menyusul rencana penataan pinggir sungai. “Belum selesai dibangun, malah jebol. Ini tembok warga dulu pernah ambrol juga,”  jelasnya.

Dia menjelaskan proyek penataan mundur munggah madep kali (M3K) bertahap dimulai dari sebelah selatan dekat embung hingga utara sejak 2019. Pembangunan baru selesai sampai di RT 4 berupa jalan inspeksi dan tembok penanggul setinggi 1,5 meter.  “Wilayah RT 03 sebagian belum sempat dibangun sudah jebol. Kalau nggak bareng bangunnya, jebol e gentenan,” ucapnya.

Muncul kekhawatiran ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi, air akan masuk ke permukiman lagi. Apalagi kegiatan proyek M3K belum tuntas. Tembok-tembok yang menempel Kali Belik juga tanpa penguat untuk menahan debitnya air. “Kalau kemarin sungai tertutup ada bangunan, ini sudah ambrol. Otomatis ada yang nggak kuat,” tambah laki-laki 47 tahun ini.

Anggota TRC BPBD Kota Jogja Ardani Dwi Santoso mengatakan, sebelum tanggul jebol akibat debit air yang tinggi dan meluap, sudah ada keretakan sebelumnya. Oleh karena itu untuk sementara  tanggul yang jebol akan ditutup dengan 300 karung yang diisi dengan pasir.

Tujuannya agar bisa menahan debit air di Kali Belik, sehingga tidak meluap lagi ketika hujan. Selain itu mesin penyedot air untuk menyedot air yang masuk ke dalam rumah-rumah warga. Upaya lain menerjunkan enam personel ditambah dari KTB untuk berjaga dari sore hingga malam hari, dilanjutkan pagi hari ini (12/3).

Kepala BPBD Kota Jogja Hari Wahyudi memprediksi, jebolnya talud Kali Belik karena keretakan yang tidak terpantau ditambah intensitas hujan yang tinggi. “Kemungkinan seperti itu, sudah lama retak dan tidak terpantau,”  ujarnya.

Wilayah lain yang juga terdampak banjir adalah kampung Kricak, di Kecamatan Tegalrejo, akibat meluapnya Kali Buntung. Selain itu, aspal mengelupas dan naik karena gorong-gorong tidak mampu menahan debit air terjadi di Jalan Kusumanegara dan Ipda Tut Harsono.

Genangan air juga masuk ke Rumah Dinas Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi di Jalan Suroto, Kotabaru. Akibatnya, halaman, garasi mobil, dan ruang tamu  tergenang.

Untuk debit air yang meningkat di Kali Buntung, mengakibatkan beberapa infrastruktur talud terdampak. Rumah terdampak ambrol karena mepet ke talud di RW 02 Pringgkosuman. “Kalau yang parah memang di kali belik,” ucapnya.

Menurut Hari, wilayah Klitren atau Kali Belik memang menjadi langganan banjir tahunan. Karena yang terjadi sungainya mengecil lantaran rumah warga masuk ke sungai atau mepet talud. Taludnya adalah tembok rumah warga.

Dikatakan, kini mulai ditata mundur tetapi belum 100 persen. Sehingga rumah warga yang sudah mundur tidak kebanjiran, melainkan masih tersisa sekitar belasan rumah yang belum mundur.

“Jadi yang tinggal di sepanjang sungai harus waspada karena beberapa hari kalau utara hujan lebat, terjadi peningkatan arus sungai. Tetap waspada kalau kira-kira membahayakan, segera mengevakuasi diri terlebih dulu,” imbaunya. (wia/laz)

Jogja Raya