RADAR JOGJA – Setelah bertemu dengan Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widono di Jakarta Selasa (10/3),  Raja Belanda Willem Alexander bersama Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti Rabu (11/3) berkunjung ke Jogjakarta. Tamu negara antara lain bertemu dengan Raja Keraton Jogja Sultan HB X dan permaisuri GKR Hemas dan ke Universitas Gadjah Mada (UGM).

Sekitar pukul 10.50, raja dan ratu Belanda tiba di Keraton Jogjakarta disambut kali pertama oleh sejumlah putri Sultan HB X di Regol depan. Yakni GKR Mangkubumi, GKR Maduretno, dan GKR Bendara. Setelahnya, raja Belanda yang mengenakan setelan jas warna coklat terang melanjutkan langkahnya.

Didampingi sang ratu yang mengenakan dress dan aksesoris serba putih lengkap dengan topi lebar dan sarung tangan putih,  rombongan dari Negeri Kincir Angin ini diterima Sultan HB X dan GKR Hemas di Regol Tengah. Mereka pun lantas bersalaman.

Tampak kontras dengan penampilan raja Belanda yang formal, HB X dan permaisuri memilih mengenakan busana tradisional Jawa. Yakni pakaian takwa warna merah muda dengan dominasi motif parang besar. Bawahannya kain batik bermotif parang yang khas. Sementara GKR Hemas dengan kebaya panjang warna kuning muda.

Rombongan raja Belanda bersama keluarga Keraton lantas menuju Gedong Jene untuk beramah tamah dan melakukan perbincangan lebih lanjut. Pertemuan selama 15 menit itu tertutup untuk pers. Usai pertemuan, Sultan menjelaskan, tidak ada perbincangan khusus di antara ke dua belah pihak.

Dalam obrolan ringan itu, raja Belanda mengaku pernah mengunjungi Jogja saat menjadi pangeran. “Beliau dulu pernah ikut ibunya pada waktu ke sini, ke keraton. Waktu itu Pangeran Willem ikut. Sekarang posisinya beda (raja). Kembali ke sini ngobrol-ngobrol saja,” ujarnya.

Sultan lantas mengapresiasi pengembalian keris milik pahlawan nasional Pangeran Dipenogoro yang selama ini tersimpan di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda. Di satu sisi ia memiliki harapan agar naskah-naskah milik Keraton Jogja yang pernah dibawa Belanda dapat dikembalikan.

“Kalau bisa, tidak hanya itu (keris). Tapi naskah yang lain, termasuk keris juga. Karena bagi orang Jawa, kan keris punya nilai. Kita tidak tahu persis tentang data-data itu,” tutur bapak lim puteri yang juga gubernur  DIJ ini.

Kunjungan untuk mempererat relasi antara Kerajaan Belanda dengan Keraton Jogja. “Pada tahun lalu waktu pembukaan museum naskah Indonesia di Leiden, anak-anak diundang, jadi mereka kenal. Beliau waktu masih pangeran sudah ke tempat lain, seperti ke Toba, Kalimantan, itu meneruskan perjalanan kakek dan orang tuanya,”  katanya.

Setelah melakukan perbincangan singkat, rombongan lantas menuju sisi selatan Gedhong Jene untuk melihat sejumlah manuskrip keraton yang dipamerkan. Setelah itu tamu negara menuju Bangsal Kencana. Di tempat tersebut, ke dua raja menyaksikan pertunjukan Beksan Lawung Ageng yang dimainkan KHP Kridhomardowo.

Beksan Lawung Ageng adalah satu tarian pusaka yang dimiliki Keraton Jogja. Yakni tari yang menggambarkan adu ketangkasan para prajurit bertombak. Tarian diciptakan Sultan Hamengku Buwono I yang terinspirasi dari perlombaan watangan di kalangan prajurit.

Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja mengungkapkan, kunjungan kehormatan dilakukan dalam rangka menjalin silaturahmi. “Beliau ingin kulo nuwun ke Jogja dengan bertemu Ngarso Dalem. Lebih silaturahmi dua keluarga saja,” ujarnya.

Belanda dan institusi pendidikan di Indonesia terus berusaha meningkatkan kerja sama di bidang pendidikan. Di UGM, Raja Belanda Willem Alexander dan Ratu Maxima Maxima Zorreguieta Cerruti mendengarkan paparan bentuk kerja sama pada beberapa bidang di kampus itu.

Bertempat di Gedung Balai Senat, rombongan tamu Belanda dan jajaran rektor serta beberapa pejabat penting di Indonesia mendengarkan langsung presentasi dari tiga falkutas. Yani Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyakarat dan Keperawatan (FKKMK),  Fakultas Biologi, dan Fakultas Hukum.

Rektor UGM Panut Mulyono mengakui, kerja sama antara UGM dengan Belanda memang sudah lama terjalin. Dengan adanya kunjungan ini dia berharap hubungan UGM dengan Belanda semakin ditingkatkan dan terus berjalan.

Panut menyebutkan, di bidang kesehatan sudah banyak terjalin antara UGM dengan Belanda. Salah satu yang masih berjalan adalah dengan rumah sakit milik sang ratu,  Queen Maxima Hospital.

Kerja sama di bidang biologi juga masih terus berjalan. Pada kesempatan ini, Fakultas Biologi juga menyajikan salah satu varietas anggrek bernama vanda tri colour yang hidup di lereng Merapi. Serta menunjukkan salah satu riset tentang zebra fish, di mana riset itu bekerjasama dengan Leiden University di Belanda.

Pada agenda ini, Ratu Maxima berkesempatan mengawinkan dua jenis anggrek dari varietas berbeda. Panut menyampaikan, Indonesia banyak memiliki keragaman hayati yang nantinya bisa dilakukan penelitian bersama antara ilmuwan Belanda dan Indonesia.

Dengan harapan, hasil penelitian itu bisa bermanfaat bagi umat manusia. “Mungkin tumbuhan yang ada di darat dan laut di Indonesia bisa diteliti oleh ilmuwan di sini dan Belanda untuk dibuat menjadi obat-obatan,” ujarnya.

Di bidang hukum juga demikian, sudah banyak bekerjasama antara UGM dan Belanda. Hal ini karena Belanda banyak mewariskan produk hukum kepada Indonesia, sehingga kerja sama bisa ditingkatkan.

UGM juga diberi kesempatan mengajukan proposal penelitian dan akan diberi pendanaan oleh pemerintah Belanda sebesar 3 juta Euro. Adanya kesempatan itu dia berharap bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para mahasiswa maupun staf pengajar di UGM. (tor/inu/laz)

Jogja Raya