RADAR JOGJA – Hujan lebat juga mengakibatkan talut setinggi 20 meter di Kampung Jlagran RT 08 RW 02 Pronggokusuman, Gedongtengen, longsor. Dampaknya, rumah milik warga Surajiyah yang berada di atasnya  ambrol ke Sungai Winongo.

Rumah itu kini ditempati anak Surajiyah, Umboro. Ia tinggal bersama istri dan seorang anaknya. “Ibu saya sudah saya ungsikan di Semarang tiga bulan lalu,” tuturnya.

Menurut Umboro, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 14.15, di mana rumah bagian timur retak. Ia sedang berada di rumah sendiri. Kemudian menghubungi anak dan istrinya untuk segera pulang dan memindahkan barang-barangnya ke sisi yang lebih aman.

Umboro dan keluarga sempat menyelamatkan barang-barangnya, sebelum rumah sisi timur benar-benar ambrol pukul 16.45. “Sudah saya pindahkan semua ke rumah sisi barat,” jelasnya saat ditemui Radar Jogja Rabu (11/3).

Ia menyebutkan, semula panjang retakan talut sekitar 10 meter di bawah rumah, persis di bagian timur yakni kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Berdampak pula pada pinggir jembatan yang amblas dan retak dengan panjang tiga meter.

Camat Gedongtengen Taukhid menyebutkan, retakan pada talut sebenarnya sudah terjadi sejak Februari. Pembenahan sudah dalam tahap perencanaan. Namun belum juga selesai, talut keburu longsor. “Talut bawahnya sudah nggronggong. Sudah tidak ada tanahnya, persis di bawah rumah Pak Umboro bagian timur itu,” jelasnya.

Ia menyebutkan retak dan ambrolnya talut kemungkinan karena derasnya arus air yang menghantam. Karena hujan lebat sehingga air mengalir deras dan menghantam tebing. “Karena tidak kuat, akhirnya ambrol,” jelasnya.

Untuk tindakan selanjutnya, lanjut Taukhid, kemungkinan ada pemotongan rumah sisi timur dari rumah Surajiyah. Ia akan berkoordinasi dengan TRC BPDB, baik Kota Joguja maupun DIJ dalam penanganan bangunan. “Karena rumah pinggir sungai seperti ini kan rawan longsor,”  tambahnya. (cr1/laz)

Jogja Raya