RADAR JOGJA – Driver ojek online (ojol) korban penganiayaan debt collector (DC) yakni Luthfi Aditya Kusuma, 29, dan dua DC yaitu Muhammad Tohir Notanubun dan Nokodemus Lalaun sepakat berdamai. Mereka sepakat mengakhiri konflik yang terjadi.

Kesepakatan ditandai pengakuan salah dan permintaan maaf dari kedua pelaku penganiayaan. Itu terjadi di Mapolsek Depok Timur Jumat(6/3).

Purnomo Susanto, selaku penasihat hukum pihak pengemudi ojol, meminta semua pihak menahan diri. Terbitnya surat perdamaian ini wajib disikapi secara bijak. Terutama untuk menjaga kondusivitas lingkungan di wilayah Jogjakarta.

”Intinya sudah ada permohonan maaf dari kedua pelaku (penganiayaan) ke pihak korban. Atas peristiwa kesalahpahaman Selasa kemarin (3/3). Adi selaku korban juga sudah menerima permohonan maaf tersebut,” jelasnya.

Purnomo meminta semua pihak menghormati kesepakatan damai ini. Terutama pihak ojol maupun DC. Semua pihak benar-benar bisa menahan diri. Termasuk mengantisipasi adanya upaya provokasi.

Tak lama setelah adanya kesepakatan ini, sempat ada konsentrasi masa dari kedua belah pihak. Dua pihak yang telah menyatakan berdamai itu bergerak cepat dengan menemui masa yang berkumpul dari dua belah pihak.

”Korban sudah menerima permohonan maaf. Jadi, permasalahan selesai. Terkait kumpulan teman ojol lain, itu di luar komunikasi kami. Tim mediasi, bahkan tidak mengetahui dan tidak menggerakan. Kami dekati bersama agar paham akar permasalahannya,” katanya.

Di sisi lain, Purnomo menilai permasalahan ini kompleks. Terutama terkait penganiayaan. Penuntasan permasalahan penganiayaan ini diserahkan sepenuhnya ke kepolisian. Termasuk upaya hukum kepada para pelaku.

”Polisi sepertinya tahu harus bertindak seperti apa atas kejadian. Hanya saja kami pastikan untuk ke depan akan menjaga kondusivitas bersama-sama. Jika melanggar kesepakatan tentu ada konsekuensinya,” tegasnya.

Sedangkan penasehat hukum DC yakni Edward Deni Dwi Handoyo mengakui adanya kesalahpahaman. Itu yang melatari kedua pelaku meminta maaf kepada korban. Para DC juga berkomitmen menjaga kondusivitas Jogjakarta.

”Terima kasih telah membuka ruang pintu maaf yang sebesar-besarnya. Saya minta semua pihak bisa menahan diri karena kedua belah pihak yang berperkara sudah berdamai. Saat ini yang perlu diwaspadai adalah adanya provokasi,” jelasnya. (dwi/amd)

Jogja Raya