Maraknya aksi klithih atau kejahatan jalanan di Jogjakarta menjadi keprihatinan bagi sebagian orang. Salah satunya Yohanes Candra Adi Nugroho. Condro, demikian ia biasa dipanggil, lalu menuangkan keresahannya tentang fenomena kejahatan jalanan itu dalam sebuah karya berjudul “Lereno Klithih”. Ini sebagai salah satu bentuk dukungannya kepada pemerintah.

JIHAN ARON VAHERA, Jogja, Radar Jogja

RADAR JOGJA – Lagu ‘Lereno Klithih’ ia ciptakan karena terinspirasi dari maraknya fenomena klithih di Jogjakarta. Ia melihat fenomena itu menjadi salah satu fenomena sosial yang sangat merugikan bagi banyak orang.

Ia melihat ternyata fenomena kejahatan jalanan seperti klithih, begal, atau sejenisnya memang sudah ada sejak dulu. Dan ternyata sampai saat ini masih ada. “Mirisnya yang melakukan sekarang kebanyakan para pelajar,”  kata Condro.

Lagu itu ia unggah di instagram miliknya @candra_adinugroho pada Sabtu (8/2). Lagu sengaja ia buat untuk mendukung pemerintah dalam memerangi klithih. Ia menyebutkan lagu tersebut tidak butuh waktu lama ia ciptakan, karena memang liriknya adalah bentuk keresahannya. “Lagu-lagu yang saya ciptakan liriknya lugas dan mementingkan komunikatif. Jadi disambi ngeteh gitu jadi lagu,” kata pecinta teh ini.

Di awal lirik lagu ia menuangkan kesedihan, keresahan, dan ketakutan yang dirasakan masyarakat dengan adanya klithih. Kemudian di bagian reff ia mulai memberikan pesan kepada para pelaku klithih untuk menyudahi aksinya. “Leren lereno, tumindakmu sio-sio! Liriknya seperti itu, untuk apa sih itu tindakan yang sia-sia,” jelasnya sambil sesekali melantunkan lirik lagunya.

Ia menceritakan lagu itu juga terinspirasi dari temannya yang pernah menjadi korban begal di malam hari. Sampai-sampai temannya jika bepergian menggunakan aplikasi online tidak berani membawa kendaraan pribadi. “Trauma dia. Bonceng pun kalau ada motor di belakangnya dia ketakutan,” ujar laki-laki kelahiran 19 Juni 1996 itu.

Di tambah lagi, ia masih duduk di bangku kuliah Jurusan Ilmu Komunikasi 2014 di Universitas Atmajaya Yogyakarta (UAJY). Kegiatannya selain manggung di kafe, mengisi acara-acara pensi, juga mengerjakan skripsi, dan lainnya. Aktivitas itu sebagian besar ia lakukan di malam hari. Tentu rasa waswas saat hendak pulang malam pasti ada. Itu menjadi salah satu faktor inspirasi dari lagu “Lereno Klithih” tersebut.

Kecintaannya pada dunia musik memang sudah ia rasakan sejak kecil, saat berada di bangku SD kelas 5 atau 6. Di awal kariernya ia tidak memperkenalkan dirinya sebagai seorang penyanyi, tetapi menjadi seorang songwriter. Bakat sudah ia miliki ketika SD. Ia sering menuangkan apa yang dirasakan dalam sebuah tulisan dan jadilah lirik lagu. Ia mengaku lebih menyukai songwriting daripada bernyanyi.

Ia sangat mencintai dunia musik, khususnya dalam bidang songwriter. Awalnya ia tidak percaya diri, namun setelah lagu buatannya dipakai oleh penyanyi asal Kulonprogo “Mergo Enak” dan dikolaborasikan dengan grup Pendosa membuatnya percaya diri. “Judul lagunya waktu itu Mantan Dadi Manten,” jelas laki-laki asal Banguntapan, Bantul, itu.

Saat mengawali karier menjadi solois pada 2018 sampai sekarang, ia sudah merilis tiga lagu, masing-masing berjudul Punya Cerita, Bertahanlah di Jogja, dan Boleh?. Selain ketiga lagu itu, ia tetap aktif menulis lagu dan menyanyikan lagu-lagu yang diunggah di beberapa platform musik, salah satunya lagu Lereno Klithih yang diunggah di akun instagram pribadinya @candra_adinugroho.

Ia berharap lagu “Llereno Klithih” direspons juga oleh pelaku musik lain, agar bisa lebih disempurnakan. Berikutnya juga supaya media dan lembaga pendidikan, juga kepolisian bisa meresponnya untuk kampanye bahwa tindakan klithih itu useless dan berisiko bagi pelakunya.

Selain itu ia menyadarkan kepada masyarakat khususnya Kota Jogja, klithih adalah hal yang meresahkan dan merugikan. “Jadi mungkin tujuan dari lagu ini adalah berbagi materi untuk edukasi, terutama ke segmen pelajar yang kerap kali mudah terlibat,”  tambahnya. (cr1/laz)

Jogja Raya