RADAR JOGJA – Tak terasa sudah 100 hari seniman Djaduk Ferianto meninggal dunia. Tapi karyanya tetap abadi. Itu pula yang ditampilkan teman, sahabat, kerabat, hingga masyarakat dalam Ibadah Musikal – 100 Hari Djaduk Ferianto. Ibadah musikal ini ingin mengajak semua orang merasakan kembali jejak inspiratif Djaduk Ferianto dengan suka cita.

Dalam acara yang digelar di Concert Hall, Taman Budaya Yogya, Selasa (25/2) malam, diisi penampilan dari Teater Gandrik, Tashoora, Tricotada dan seniman lainnya. Hingga Soimah, Endah Laras, Syahrani, Idang Rasjidi, dan juga kakak Djaduk, Butet Kartaredjasa.

Kua Etnika juga memperdengarkan untuk pertama kalinya tiga karya terbaru yang dasar melodinya digumamkan dan direkam melalui ponsel oleh Djaduk Ferianto saat berkunjung ke Cape Town, Afrika Selatan sebelum tiada. Salah satu lagu yang mereka mainkan malam itu adalah,  ‘Angin Gunung’. Komposisi musik tersebut berasal dari siulan Djaduk. “Itu siulan Djaduk pada saat ia sedang berada di Gunung Table Mountain di Afrika Selatan,” kata Butet.

Saat itu Djaduk tiba-tiba mendapatkan inspirasi pada saat di gunung itu. Dia kemudian bergumam dan bersiul-siul dan merekamnya di telepon genggam. Ketika Djaduk meninggal, grup Kua Etnika pun menggarapnya dengan membuat lagu dan komposisi musik dari siulan tersebut. “Dan rencananya besok 27-28 Maret akan ditampilkan di Cape Town Jazzfestival,” sambungnya.

Ya, sejak meninggalnya Djaduk pada 13 November 2019, Kua Etnika masih terus berkesenian. Kua Etnika merupakan kelompok musik kontemporer yang didirikannya bersama Butet Kartaredjasa dan Purwanto. Dibentuk sejak 1996.

Kua Etnika juga menyayikan lagu ‘Nguntapne’ karya mereka untuk dipersembahkan kepada Djaduk. Vokalis Kua Etnika Silir Pujiwati menyebut, lewat komposisi lagu tersebut mereka bermaksud bersama-sama nguntapne atau menghantar tidur panjang Djaduk dengan keikhalasan dan senyuman. “Tersenyumlah kau di sana kita hantar dengan senyuman.” Begitu secuil lirik dari lagu tersebut.

Bukan hanya Kua Etnika, Soimah juga begitu kehilangan Djaduk. Ia bahkan menyampaikan tidak ingin menganggap Djaduk sudah tiada. Spirit Djaduk itu selalu ada dan turut hidup dan hadir dalam acara mengenang 100 hari Djaduk. “Djaduk akan selalu ada bahkan mungkin dia ada di tengah-tengah kita sekarang,” tuturnya dengan tegar.

Butet menambahkan, sosok Djaduk memang sudah tiada. Tapi karya-karyanya masih hidup dan akan tetap terus ada hingga kapanpun. Ia berharap orang-orang didekat Djaduk selalu mewarisi apinya bukan cuma abunya. “Kua Etika akan terus menerus membawa apinya Djaduk ke depan,” dengan semangat ia mengucapkan kalimat itu dan mengepalkan tangannya erat-erat. (cr1/mg2/pra)

Jogja Raya