RADAR JOGJA – Pasca kecelakaan susur Sungai Sempor oleh 249 siswa SMPN 1 Turi, Sleman, Jumat (21/2) lalu, kegiatan belajar-mengajar mulai aktif kembali Senin (24/2). Tidak banyak siswa ditemui. Tiap sudut sekolah lebih banyak didominasi jajaran kepolisian, relawan Tagana, Dinas Sosial, dan relawan. Kesibukan juga terlihat di ruang posko psikolog.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan menjelaskan, sejak pukul 07.00 kegiatan siswa dan guru adalah melakukan doa bersama dan salat gaib. Dipimpin langsung kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Turi. Sedangkan yang beragama non- Islam, doa bersama dilakuan di ruang doa dipimpin rohaniawan.

Setelah doa bersama, siswa kelas VII dan VIII langsung dimasukkan ke kelas masing-masing untuk mendapatkan pendampingan psikologis.  “Tahapan selanjutnya adalah pendampingan psikologis bagi siswa dan guru SMPN 1 Turi,” jelas Makwan.

Plt Dinas Pendidikan Sleman Arif Haryono menjelaskan, untuk sementara waktu kegiatan kesiswaan di luar sekolah mulai dari PAUD sampai tingkat SMP akan diberhentikan sementara. Tidak hanya dengan kegiatan pramuka, namun seluruh kegiatan kesiswaan yang akan dilakukan di luar ruangan.

Dalam kurun waktu seminggu ke depan, Arif memastikan pedoman terkait pelaksanaa kegiatan kesiswaan dipastikan akan selesai disusun. Mulai dari mekanisme, prosedur, kerja sama, dan terkait manajemen risiko akan secara detail diatur. “Dan akan langsung disosialisasikan kepada seluruh sekolah, mulai PAUD sampai tingkat SMP,” ungkap Arif.

Dari pedoman yang ada, diharapkan seluruh kegiatan kesiswaan akan terorganisasi dan terkoordinasi dengan baik. Akan dilakukan dengan tertib, sesuai ketentuan untuk melindungi keselamatan anak didik.

Disinggung terkait proses hukum yang melibatkan pembina pramuka, Arif yang juga Ketua Kwarcab Sleman ini masih menunggu proses selanjutnya, termausk sanksi apa yang akan dijatuhkan kepada pembina. Sanksi paling berat, tambah Arif, adalah dengan diberhentikan. “Ada pula dewan kehormatan yang akan bekerja sesuai kaidah dan norma yang telah ditetapkan,” turur Arif.

Pembina yang juga sebagai guru di SMPN 1 Turi akan mendapatkan sanksi sebagai pegawai pula. Namun, hal ini juga akan menunggu dari proses hukum yang masih berjalan di Mapolres Sleman. (eno/laz)

Jogja Raya