RADAR JOGJA – Mimipi Transjogja sebagai angkutan massal andalan di DIJ belum juga terwujud. Sebagai salah satu solusi, UGM mengusulkan kepada Pemprov DIJ optimalisasi transportasi publik dan menghubungkan antara transportasi internal kampus dengan Transjogja.
Ide itu berawal dari pemikiran bersama antara perguruan tinggi dan sekolah di DIJ untuk mewujudkan moda transportasi yang ideal bagi pelajar dan mahasiswa. Caranya dengan melakukan optimalisasi angkutan bus Transjogja dengan menambah titik henti, jumlah halte, penyesuaian harga tiket, dan jumlah bus. Terlebih trayek Transjogja sudah melewati hampir seluruh sekolah dan universitas. “Jadi tinggal mensinkronkan lagi,” jelas Dekan Pascasarjana UGM Siti Malkhamah, usai bertemu Gubernur DIJ, Selasa (7/1).
Dia menyoroti masih belum optimalnya layanan transportasi Transjogja. Seperti keberadaan halte bus yang telalu jauh, durasi kedatangan yang lama, dan tiket yang masih dianggap mahal. Transjogja dianggap belum menjadi transportasi ideal bagi pelajar dan mahasiswa. Masukan ini didapat dari forum diskusi yang diadakan beberapa kali. “Pesertanya perguruan tinggi di DIJ dan hampir seluruh SMP dan SMA di Jogja,” tambahnya.
Selain mengurangi kepadatan kendaraan, penggunaan transportasi publik juga menjawab keresahan para orang tua mengenai penggunaan kendaraan pribadi pada pelajar. UGM juga memaparkan adanya aplikasi yang memungkinkan penggunanya untuk mengakses informasi mengenai jalur dan jadwal bus yang ditawarkan. “Juga bisa untuk membeil tiket bus,” jelasnya.
Dengan adanya sistem yang lebih baik diharapkan pelajar dapat beralih menggunakan transportasi umum. Untuk mendorong minat, sekolah dan universitas bisa memberikan imbauan bagi siswanya untuk menggunakan transportasi publik. “Juga bisa memberikan pertimbangan. Misal parkir motor dan mobil ditempatkan yang jauh, jadi mereka harus jalan jauh,” tandasnya.
Rektor UGM Panut Mulyono menambahkan, upaya menguatkan transportasi umum di Jogja dilakukan agar siswa dan mahasiswa tertarik menggunakan angkutan umum. Diharapkan sekolah dan kampus jadi tidak penuh dengan kendaraan sehingga belajar jadi lebih nyaman. “Intinya mewujudkan transportasi yang mudah diakses dan bagaimana kita menghubungkannya dengan transportasi di internal kampus,” jelasnya.
Gubernur DIJ Hamengku Buwono X mengaku akan mempersiapkan jalur dan aplikasi untuk pengoptimalan sistem jaringan transportasi. “Nanti bertemu dalam konteks yang lebih luas untuk membahas jadwal (bus), investasi, dan melaksanakan aplikasi itu jadi program bersama” jelasnya.
HB X berharap penerapan dapat dilaksanakan di tahun ini, kendati belum diselenggarakan secara menyeluruh. “Di 2020 mungkin penerapannya belum semua, tapi kalau sudah bisa dimulai di 3-4 sekolah dan universitas, terus yang lain menyusul itu juga bisa,” jelasnya.
Tak menutup kemungkinan, aspek-aspek yang berkaitan dengan jam dan trayek Trans Jogja akan direvisi. Mengingat jalur bus otomatis akan jadi lebih panjang seiring dengan meningkatnya jumlah halte. “Kalau untuk banyaknya armada nanti tergantung potensi,” tuturnya. (tor/pra)

Jogja Raya