RADAR JOGJA – Kampanye yang menggunakan isu suku, ras, agama, dan antargolongan (SARA) pada pemilihan kepala daerah (pilkada) tahun ini bisa memperparah praktik intoleransi. Direktur Pascasarjana Universtias Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Prof Dr Noorhaidi Hasan mengatakan, isu SARA dalam persaingan elektoral merupakan sebuah hal yang potensial digunakan oleh calon pimpinan kepala daerah. Dampaknya adalah perpecahan di masyarakat karena perbedaan paham politik.

Oleh karena itu, yang perlu diantisipasi yakni tindakan intoleran baik oleh individu ataupun kelompok. “Ini yang harus ditangani oleh semua pihak bagaimana mengatur keberagaman yang ada,” jelas Noorhaidi (3/1).

Menurut Noorhaidi, pemerintah telah berusaha semaksimal mungkin dalam mencegah praktik-praktik intoleransi. Upaya yang bisa dilakukan adalah memberikan edukasi dan menyadarkan kepada masyarakat, bahwa tidak dibenarkan memperlakukan orang secara berbeda tanpa melihat suku, agama, dan warna kulit. “Prinsip kewarganegaraan yang berasaskan Pancasila harus terus menerus ditanamkan,” tambahnya.

Di sisi lain, kesadaran pluralisme juga harus diikuti oleh kebijakan pemerintah. Yang mana harus mendorong atau memberikan penghargaan terhadap kelompok minoritas serta ragam keagamaan. Bisa diperbaiki mulai dari perundangan-undangan, seperti UU PNPS No 1/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama dan Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama Tahun 2006 yang mengatur mengenai izin pendirian rumah ibadah.

Menurut Noorhaidi, regulasi tersebut perlu dibicarakan kembali agar komunitas keagamaan memiliki peluang yang sama. Saat ini, tambah Noorhadi, politisasi agama untuk mendapat kekuasaan masih berhubungan dengan intoleransi agama. Yang mana intoleransi pengaruhnya masih sangat luas di Indonesia.

Noorhaidi menyebut, kejadian intoleransi di DIJ selama ini tidak terlepas dari dinamika politik lokal, nasional, maupun global. “Jadi persoalan intoleransi perlu diurai dari mana asalnya. Itu penting untuk menjadi catatan bagi yang terpilih menjadi bupati nantinya,” ungkapnya. (eno/laz)

Jogja Raya