RADAR JOGJA – Kamera analog mulai ditinggalkan. Rata-rata peminatnya cenderung mengarah pada trend atau style. Untuk menciptakan foto yang esensial. Foto hasil kamera analog pun sudah dapat dikatakan sebagai barang antik.

“Tentu saja memiliki nilai lebih tinggi dibandikan hasil foto sekarang. Harga hasil foto bisa lebih mahal,” ungkap dosen Jurusan Fotografi Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) ISI Jogjakarta Pamungkas Wahyu Setiyanto saat dihibungi Radar Jogja Sabtu (21/12).

Menjadi mahal, karena faktor material cetaknya sudah sulit ditemui. Tidak seperti sekarang yang jauh lebih simpel menangkap objek dengan kemudahan kamera digital. Sedangkan kamera analog masih menggunakan film. Dan harus melalui proses penyucian yang membutuhkan waktu berjam-jam.

Perbedaan lainnya, analog lebih pada tempat penyimpanannya. Kalau analog disimpan di film. Sedangkan digital langsung disimpan otomatis melalui sensor.

Pamungkas yang pernah menjadi fotografer Radar Jogja ini mengaku pernah mengalami tiga zaman menggunakan kamera. Pertama zaman kamera analog. Sekitar 2000 awal hingga 2003, kamera digital masih digunakan sebagian besar fotografer media.

Sekitar 2004 mulai muncul kamera SRL. Kamera ini sudah merambah ke digital. Artinya, tidak memerlukan film lagi sebagai tempat penyimpanan. Hingga saat ini semakin berkembang dengan kamera mirrorless dengan kemampuan bidik lebih maksimal. Dan dengan beragam fitur.

”Nah, bedanya kalau pakai film itu lebih dag dik dug karena takut kalau kebakar. Nah, itu yang gagal. Kalau digital semua objek dapat ditangkap tanpa ada rasa khawatir,” ungkapnya.

Kendati begitu, jika membahas praktik fotografi, kamera digital jauh lebih sulit dibanding penggunaan kamera analog. Karena lebih banyak fitur pengaturan. Dibutuhkan nilai seni memotret yang lebih tinggi. “Kalau sekarang orang punya duit tinggal beli dan tinggal cekrek tanpa mempelajari fotografi,”  tuturnya.

Kendati demikian, munculnya beragam fitur foto justru menghilangkan kemurnian foto. Menghilangkan keaslian warna dan gambar. Dengan demikian menghilangkan esensi fotografi itu sendiri. “Sekarang lebih dimanjakan dengan fitur yang melebihkan objek aslinya,” tutur warga Panggungharjo, Sewon, Bantul, ini. (mel/laz)

Jogja Raya