RADAR JOGJA – Salah satu pengidap HIV di DIJ, WE, sudah lima tahun terserang virus HIV. Kini dia menjadi orang dengan HIV AIDS (ODHA).  Dia menduga, virus itu ditularkan saat WE melakukan hubungan seks berisiko.

Diakuinya, dulu suka ‘jajan’ untuk melupakan masalah yang dialaminya. “Ya dulu kadang suka ‘jajan’ buat pelampiasan (masalah), tidak tahu tepatnya kena sejak tahun berapa,” jelasnya kepada Radar Jogja Rabu(3/12).

Awal mula mengetahui mengidap HIV saat dirinya sakit hingga harus dirawat di salah satu RS swasta di Jogja. Saat itu gejalanya seperti stroke. Beberapa anggota tubuhnya kaku dan tidak bisa digerakkan. Pikirannya juga berkunang-kunang. Dokter lantas menyarankan untuk melakukan tes. Ternyata hasilnya positif.

Dia dan istrinya begitu dikejutkan. Namun seiring waktu keluarga bisa menerima keadaannya. Kini kondisinya jauh membaik. Saat ini WE tetap mampu bekerja sebagai pegawai swasta. Namun EW wajib mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) sebanyak dua kali sehari. “Sama sekali nggak boleh terlambat (minum obat), nanti bisa jadi kuat lagi virusnya,” paparnya.

Data yang dimiliki Dinas Kesehatan (Dinkes) DIJ, kasus HIV/AIDS di DIJ terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Secara komulatif sejak 1993 hingga triwulan 2019 tercatat sebanyak 4.990 kasus HIV di DIJ. Sedangkan yang terjangkit AIDS sebanyak 1.698 orang.

Artinya pada 2019 tercatat sebanyak 209 kasus HIV dan 51 orang mengidap AIDS. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DIJ, Berti Murtiningsih menuturkan kasus HIV/AIDS masih banyak terjadi pada kelompok resiko tinggi seperti heteroseksual (hubungan seksual laki-laki dengan perempuan), homoseksual, waria, dan pekerja seks komersial,” jelasnya.

Salah satu penghambat penanganan kasus HIV/AIDS yakni masih adanya stigma atau perlakuan diskriminatif dari masyarakat kepada ODHA. Banyak mitos yang dipercayai oleh masyarakat mengenai penyakit. Misalnya HIV/AIDS bisa ditularkan apabila bersentuhan dan makan minum dengan alat yang sama dengan penderita. Padahal penularan HIV disebabkan hubungan seksual, transfusi darah, dan penggunaan jarum suntik bergantian.

Adanya diskriminasi dan stigma yang disematkan membuat orang menjadi malu sehingga enggan melakukan pemeriksaan. Padahal pengidap harus segera mendapatkan statusnya agar keadaannya tidak semakin parah. Penanganan dini juga bisa mencegah kondisi AIDS. “Lalu apabila dia berobat rutin dia tetap bisa sehat dan produktif,” jelasnya.

Sedang dalam peringatan Hari AIDS Sedunia 2019 di pendapa Dinas Kebudayaan DIJ, Sekretaris Komisi Penanggulan AIDS DIJ Aris Suwanto menyebut, data yang dimiliki KPA DIJ sampai dengan Juni 2019 terdapat 21 orang disabilitas terinfeksi HIV AIDS.

Sementara itu Wakil Gubernur DIJ Paku Alam X mengungkapkan kecemasannya terhadap penyebaran HIV AIDS. Dikatakan di Pulau Jawa secara grafik sudah berwarna merah. ”DIJ memang masih kuning, tapi menjelang merah. Ini tentunya menjadi keprihatinan bersama,” ujarnya. (cr16/bhn/pra)

Jogja Raya