RADAR JOGJA – Seniman Djaduk Ferianto dikenal sebagai sosok yang perfeksionis. Selain juga kreatif dan pekerja keras. Semangat dan kecintaannya pada seni lah yang membawa Djaduk menyibukkan waktunya. Meski kondisi lelah mendera di sekujur tubuhnya. Padahal dia memiliki riwayat diabetes dan asam lambung.

“Saya, mama, masih belum yakin kalau beliau (Djaduk) meninggal. Kami seperti rindu dibully. Apalagi mama yang kerap di bully,” kenang Puti Lokita, keponakan Djaduk.

Sebelum kejadian, Suci Senati, putri kedua Djaduk sempat mendengar Djaduk hendak bertemu dengan teman-temanya di Ngayogyajazz bersama Hattakawa. Belakangan ini, kata Suci, sosok pemain Teater Gandrik ini kerap bersenda gurau kepada Kuaetnika.

“Sepertinya udah ada feeling. Karena selalu minta didoakan,” katanya.

Sambung Puti, ketika seluruh anggota keluarga berkumpul, sosok Djaduk tak lepas dari karakternya. Suka mengerjai siapa saja.

“Bahkan, sering guyon. Setelah kakak pertama Ida Manutranggana meninggal berikutnya siapa lagi,” ungkap Puti. Menginggat Elia Gupita adalah putra kedua Bagong Kussudiardja sementara Djaduk anak bungsu.

“Kalau papa (Butet) sering bercandain, jangan-jangan si bungsu duluan,” sahut Suci. Dari guyonan itu, kata Suci, tampak Djaduk menginginkan kalau meninggal dengan cara yang mudah. Tidak menyusahkan orang lain.

Dikatakan, rencana kecil Djaduk, pada 16 November 2019 akan di selenggarakan Ngayogjazz di Godean, Sleman. Tahun 2020, Djaduk dan Butet berencana ke Afrika untuk pentas seni berkolaborasi dengan seniman Afrika.

Jenazah Djaduk di makamkan sekitar pukul 15.00 di Cempuri, pemakaman keluarganya di Sembungan, Bangunjiwo, Bantul. Berdekatan dengan makam sang Ayah, Bagong Kussudiardja. (mel/riz)

Jogja Raya