RADAR JOGJA – Fokus menghadapi musim penghujan tidak hanya di kawasan permukiman. Kawasan lereng Gunung Merapi juga menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ. Bahkan hampir semua sungai berhulu di gunung api teraktif di dunia itu memiliki potensi bahaya.

Kepala BPBD DIJ Biwara Yuswantana mengakui, kiriman material Gunung Merapi menjadi salah satu prioritas. Dalam skala tertentu, hujan di kawasan puncak turut menjadi indikasi. Terlebih saat ini proses pembentukan kubah lava masih berlangsung.

“Merapi tetap jadi prioritas kami, baik dampak primer maupun sekundernya. Ya, salah satunya kiriman material atau akrabnya lahar dingin. Walaupun sesuai informasi BPPTKG, kubah lava masih stabil dan volume relatif tetap,” jelasnya , Selasa (29/10).

Tak hanya pandangan mata, BPBD DIJ juga memanfaatkan closed circuit television  (CCTV). Seluruhnya terpasang dari kawasan puncak hingga rute aliran sungai. Fungsinya untuk memantau arah pergerakan dan volume sungai.

Jajarannya juga terus mengoptimalkan early warning system (EWS). Hampir sama dengan CCTV, pemasangan sistem peringatan dini ini di sepangang sungai yang berhulu Merapi. Termasuk desa-desa yang berbatasan langsung dengan puncak  Merapi.

“Untuk CCTV saya pastikan jumlahnya memadai, sehingga bisa terpantau setiap saat. Nah untuk EWS memang ada yang tidak berfungsi, tapi tetap tercover dengan EWS lainnya. Sudah kami lakukan pendataan dan evaluasi,” ujarnya.

Biwara telah menyiagakan unsur kesiapsiagaan. Terbukti pasca hujan Senin malam (28/10), timnya langsung bergerak cepat. Walau intensitas hujan rendah, tetap menjadi perhatian. Khususnya untuk kesiapan peralatan dan logistik kebencanaan.

Pemprov DIJ, lanjutnya, telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 10 miliar. Peruntukannya sebagai dana tak terduga. Salah satu fungsinya untuk penanganan bencana di kabupaten dan kota. Termasuk jika suatu waktu ada peningkatan status menjadi tanggap darurat bencana.

“Pemetaan potensi bencana tidak hanya Merapi. Masa pancaroba hingga penghujan, potensi bahaya meliputi hujan lebat, longsor, genangan air, angin kencang hingga pohon tumbang. Kami sudah imbau agar warga dan instansi terkait mengecek saluran air dan pemangkasan dahan pohon,” katanya.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Hanik Humaida tak menampik adanya potensi hujan lahar. Hanya saja dia memastikan konsetrasi material masih kecil. Berdasarkan data terbaru, volume kubah lava mencapai 397 ribu meter kubik.

“Dilihat dari data saat ini, potensi terjadi kiriman material dari puncak Merapi masih kecil. Ini karena pembentukan kubah lava lambat. Artinya jumlah material di puncak juga tidak terlalu banyak. Beda dengan erupsi tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.

Hujan intensitas ringan sempat terjadi di sejumlah kawasan Sleman. Kepala Data dan Informasi Staklim BMKG Jogjakarta Etik Setyaningrum memastikan, intensitas hujan masih sangat rendah. Ini karena curah hujan belum merata di seluruh wilayah Jogjakarta.

Berdasarkan data Staklim Jogjakarta, hujan terjadi di Kecamatan Ngaglik, Mlati, Turi, dan Tempel. Sementara untuk Kabupaten Bantul di Kecamatan Dlingo, Pundong, dan Banguntapan. Penyebabanya sebaran awan hujan atau cumulonimbus belum merata.

“Pantauan citra radar hujan intensitas ringan terjadi pukul 21.40 di Ngaglik dan Mlati. Lalu pada pukul 22.10 hujan lagi di Dlingo, Pundong, Banguntapan, Turi, dan  Tempel. Prediksi awal musim hujan medio November. Kalau puncaknya perkiraan Januari hingga Februari 2020,” katanya. (dwi/laz)

Jogja Raya