RADAR JOGJA – Uji coba semipedestrian kawasan Malioboro berimbas pada kepadatan lalu lintas di jalan-jalan sekitarnya. Saat Malioboro hanya dilintasi kendaraan tidak bermotor serta bus Transjogja, jalan di ring dua Malioboro dipadati kendaraan.

Kepadatan paling terlihat di Jalan Pasar Kembang. Khususnya waktu sibuk di pagi hari, tengah hari dan sore hari. Selain tujuan Malioboro, waktu tersebut adalah jam pulang dan berangkat aktivitas para warga. Salah satunya ruas jalan  selatan Stasiun Tugu hingga simpangtiga Pasar Kembang. “Kadang juga bersamaan dengan jam keluarnya penumpang kereta. Pejemput kadang berhenti di garis biku. Ini yang membuat arus kendaraan tersendat,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja Agus Arif Nugroho, Senin (1/10).

Dia tak menampik pelaksanaan semipedestrian Selasa Wage tak selamanya lancar. Satu catatan yang terulang setiap bulannya adalah arus kendaraan. Volume kendaraan kawasan sirip jalan khususnya ring dua Malioboro selalu padat.

Antisipasi kepadatan telah berlangsung sejak sehari sebelumnya. Berupa penggeseran pembatas jalan ke sisi utara. Alhasil ruas jalan sisi selatan mendapatkan porsi satu setengah ruas jalan. Sementara untuk ruas sisi utara hanya bisa dilalui satu kendaraan jenis roda empat dan bus Transjogja.

Menurut mantan camat Gondomanan itu, dengan manajemen lalulintas ini berdampak lain. Selain memberikan porsi besar ruas jalan sisi selatan juga kepada penjemput penumpang Stasiun Tugu. Mau tak mau pemilik kendaraan tidak berhenti lama di ruas jalan utara. “Sebenarnya untuk memperlancar flow semipedistrian Selasa Wage. Tapi  ternyata juga bisa menertibkan kendaraan yang berhenti di selatan Tugu,” katanya.

Kelakuan para pemilik kendaraan, terutama pengemudi online, sejatinya salah. Terlebih ada garis biku-biku di ruas jalan tersebut. Artinya pemilik kendaraan roda dua, roda empat hingga bus tak boleh berhenti disitu. Disinggung penerapan permanen, Agus belum bisa memastikan. “Sifatnya memang solusi sementara untuk Selasa Wage, belum untuk jangka panjang. Karena harus ada kajiannya,” ujarnya.

Langkah lain manajemen lalulintas adalah penambahan durasi traffic light. Agus menuturkan ada rekayasa durasi tergantung tingkat kemacetan. Tujuannya untuk mengurai kepadatan kendaraan dari berbagai sisi. “Ada yang terpantau melalui ATCS (Air Traffic Control System). Adapula yang manual dengan penjagaan petugas di lapangan. Evaluatif, kalau padat ya direkayasa agar lancar,” katanya.

Permasalahan lain Selasa Wage adalah lahan parkir. Meski kendaraan bermotor dilarang melintas, mayoritas pengunjung Malioboro ingin parkir dekat. Terbukti dengan adanya penumpukan parkir kendaraan di sejumlah sirip jalan menuju Malioboro. Beberapa warga sekitar membuka lahan parkir di lahannya untuk pengunjung Malioboro.

Salah satu penjaga parkir Taman Khusus Parkir Abu Bakar Ali (TKP ABA) Tri Suwito menuturkan keramaian relatif. Jumlah pengguna jasa parkir, lanjut pria berusia 59 tahun ini tidaklah konstan. Keramaian hanya terdeteksi pada sore hingga malam hari. “Kalau dibilang penuh enggak juga, sepi juga enggak. Paling cuma sampai lantai dua. Belum pernah sampai baik ke lantai tiga,” tuturnya.

Penyebabnya, lanjut dia, karena ada kantong parkir dadakan yang dibuka oleh warga di sekitar kawasan Malioboro. “Karena kantong parkirnya enggak cuma di sini,” katanya. (dwi/pra)

Jogja Raya