RADAR JOGJA – Dongkol karena proyek saluran air hujan (SAH) di Jalan Babaran Jogja yang mangkrak menyusul  OTT KPK mengganggu aktivitas masyarakat, warga pun menanami dengan bibit jagung. Bibit jagung ditanam dengan membentuk letter L sesuai lubang galian proyek itu.

Warga menanami lahan proyek itu karena selama ini resah dan terganggu akibat debu yang beterbangan. Dengan ditanami jagung yang dirawat dan disirami, diharapkan dari hari ke hari akan tumbuh hijau dan rindang, sehingga bisa mengurangi debu yang ada.

“Bisa dibilang ini bentuk dongkol kami, karena sampai sekarang tidak ada tindak lanjut terhadap proyek ini. Karena sudah kecewa, ya protesnya hanya bisa dengan cara seperti ini,”  ujar Joko Prakoso, ketua RT 38, Batikan, Tahunan, Umbulharjo, Jogja kepada Radar Jogja, Rabu (25/9).

Ia mengatakan, warga mengetahui adanya permasalahan pada proyek ini. Namun dia menilai pemerintah kurang bijak dalam menanggapi masalah proyek yang mangkrak tersebut. Hanya dibiarkan tanpa adanya penanganan lebih lanjut. Lantaran jika tidak segera ditangani, akan berdampak semakin melebar.

Pembangunan yang tidak rampung itu, lanjutnya, dikhawatirkan  SAH akan tersumbat jika musim hujan datang. Sebab dengan material menutup saluran yang sedang dibangun,  akan berdampak air yang masuk  menggenang hingga meluap ke permukaan jalan karena tidak adanya saluran.

“Pemerintah jangan janji-janji saja, apalagi ini udah mau  musim penghujan. Warga resah, kami pun kasihan terhadap warga saya karena bisa terkena penyakit,” ungkap Joko yang membawahi sekitar 60 KK ini.

Dikatakan, mayoritas penduduk di RT-nya anak-anak dan ibu-ibu. Keluhan semakin diperparah dengan air kotor dan banyak tikus yang masuk ke rumah-rumah warga, sehingga  berpotensi menimbulkan penyakit.

Kendati demikian, ia memahami akan proses hukum yang semestinya sedang berproses. “Tapi apa iya di sini harus menunggu proses sana sampai tuntas. Kan sudah mau hujan dan ini akan lebih fatal,” terangnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Heroe Poerwadi (HP)  saat dihubungi soal protes warga, mengaku bisa memahami  perasaan warga yang  menutup lubang proyek  dengan mnenanami jagung. Ia pun mohon maaf dan pengertian warga karena masih menyangkut masalah hukum.

HP yang sedang mengikuti pendidikan di Jakarta  menjelaskan, sembari menunggu petunjuk arahan dari KPK dan BLPP, masyarakat dimohon bersabar. Dan diharapkan semoga nanti pemkot segera bisa mengatasi persoalan pelik ini.

Dikatakan, pada intinya karena pelaksana proyeknya sedang dalam masalah hukum, maka pemkot meminta pendapat untuk bisa membuat keputusan, melanjutkan atau melakukan pelelangan lagi. Pemkot bertindak hati-hati terhadap persoalan ini.

Jika melihat waktu yang segera memasuki bulan Oktober, tidak mungkin pihaknya melakukan pelelangan ulang. Dikarenakan waktunya yang tidak cukup untuk menyelesaikan administrasi atau melakukan pelelangan.

Sehingga kemungkinan dilakukan pemutusan dan penutupan kembali jalan yang sudah dibongkar tersebut. “Dan nanti jalan bisa normal tidak mengganggu masyarakat. Itu harapan kami, sebelum musim hujan datang, sudah terselesaikan,”  katanya. (cr15/laz)

Jogja Raya