SLEMAN – Beragam isu sosial menjadi perhatian seniman. Mereka terlibat dalam pameran seni Pra Biennale XIV 2019 di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM, Minggu (11/8).

Kelompok TacTic menjadi salah satu dari 16 peserta yang berpameran sepanjang 1-20 Agustus 2019. Instalasinya diberi judul ‘’100 Meter Lagi Ada’’.

Mereka mengangkat permasalahan sampah plastik di Kota Jogja.
Karyanya didasari pada riset yang menunjukkan bahwa sebagian besar sampah plastik di Kota Jogja berasal dari daerah pemukiman mahasiswa. Yang dikelilingi gerai minimarket dan supermarket.

Beragam isu yang diangkat mengindikasikan bahwa saat ini penciptaan karya seni tak cuma berlangsung di studio. Ada kecenderungan pada seniman masa kini berupaya lebih terlibat dalam kehidupan masyarakat.

Demikian diungkapkan Peneliti dari KUNCI Cultural Studies Brigitta Isabella. Hal itu terjadi karena praktik seni memiliki potensi menyuarakan suara kelompok tertentu. Maupun mempererat jejaring komunitas demi menyuarakan pesan kolektif.

“Seni bisa dipakai setiap orang untuk menyuarakan kepentingan mereka sendiri,’’ kata Brigitta di Ruang Kenong PKKH UGM.

Pada zaman pascakemerdekaan, seniman kerap dianggap sebagai pencerah. Sehingga mendapat julukan sebagai penyambung lidah rakyat.

Rakyat aspirasinya didengarkan dan disampaikan melalui karya seni. Hubungan ketergantungan ini menjadikan seniman sebagai sosok penyelamat. Padahal, tanpa disadari, seni berlangsung dalam kehidupan sehari-hari setiap orang.

Dia mencontohkan seni berbasis komunitas dalam perayaan Festival Watu Kodok. Seni tersebut sebagai cara masyarakat lokal menyampaikan pesan kepada investor yang mencengkeram perekonomian warga.

“Dalam festival Kathok Abang mereka tampil pakai baju SD untuk mengolok-olok orang berpendidikan. Tapi ternyata tidak humanis,’’ kata Brigitta.

Seniman perlu merefleksikan peran seni dalam kehidupan manusia. Terutama dalam menampilkan hal-hal terpinggirkan yang tidak diangkat. “Perlu dicari tahu galeri-galeri seni itu kontribusinya apa buat masyarakat,’’ ujar Brigitta. (cr16/iwa/zl)

Jogja Raya