JOGJA – Ratusan foto dan dokumen bersejarah dipamerkan dalam pameran arsip di Sasono Hinggil Dwi Abad Alun-Alun Selatan mulai Kamis (18/7). Acara yang digagas Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIJ ini dihelat hingga 24 Juli mendatang.

Pameran juga melibatkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten/Kota se-DIJ. Bawaslu DIJ juga turut menyumbang koleksi arsip berupa foto dan audio visual yang berkaitan dengan demokrasi dan pemilu di wilayah Jogjakarta.

DAULAT RAKYAT: Selain ratusan foto, pameran yang diadakan Dinas Perpustakaan dan Arsip DIJ bekerjasama dengan Bawaslu DIJ ini juga menampilkan arsip tekstual serta audio visual pemilu di DIJ, mulai tahun 1955 hingga 2019. (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

Mengambil tema Daulat Rakyat Yogyakarta Cermin Demokrasi Indonesia, foto-foto yang ditampilkan mengenai euforia pelaksanaan pemilu sejak tahun 1951 hingga era reformasi, tepatnya 2014. Tema itu dipilih mengingat Jogjakarta merupakan salah satu penyangga sistem demokrasi di Indonesia.

Kepala DPAD DIJ Monika Nur Lastiyani mengatakan, tujuan digelarnya pameran ini untuk mempromosikan dan mensosialisasikan arsip kepada masyarakat luas. “Arsip sebagai bahan informasi yang memiliki nilai sejarah perlu dihadirkan ke masyarakat dalam bentuk pameran,” jelasnya di sela-sela kegiatan.

Ia berharap dengan diadakannya pameran secara terencana dan berkelanjutan ini dapat meningkatkan apresiasi masyarakat di bidang kearsipan. Mengingat banyak potensi yang dapat digali dari arsip.

Dalam pameran ini penyelenggara juga membuka layanan untuk merawat dan memperbaiki surat berharga yang telah rusak. “Masyarakat yang ingin memperbaik arsipnya bisa datang ke pameran ini selama seminggu ke depan,”  ujar Monika.

Dijelaskan, tahapan memperbaiki arsip cukup sederhana, yaitu dengan metode laminasi dengan tisu Jepang. Bisa juga dengan lem methyl celulosa yang dicampurkan air suling. Proses ini bisa membuat kertas arsip lebih awet, bahkan bisa mencapai usia ratusan tahun.

Namun biaya operasional itu cukup mahal, karena alat yang digunakan dalam pengawetan harus diimpor dari luar negeri. “Tisu Jepang harganya cukup mahal. Untuk 450 lembar harganya bisa mencapai Rp 8 juta,” tambah Monica. (cr16/laz/rg)

Jogja Raya