JOGJA – Beragam kesan ditunjukkan siswa baru di hari pertama pengenalan lingkungan sekolah (PLS) Senin (15/7). Siswa tak antusias jika hanya dijejali banyak ceramah. Seperti di SMAN 10 Kota Jogja. Beberapa siswsa mengaku tak berkesan karena kegiatan PLS dinilai cenderung monoton.

“Bosan kalau hanya mendengarkan (orang, Red) ngomong sambil duduk,” ungkap Kilau Mutiara Savana, salah seorang siswa, di sela mendengarkan paparan tentang wawasan wiyata mandala.

Menurutnya, kegiatan PLS harus lebih kreatif. Supaya siswa baru tak merasa jenuh atau bosan. Misalnya dikemas dengan aneka permainan. “Namun tetap tanpa kekerasan,” sambungnya.

Lepas dari kebosanan itu, Kilau mengaku PLS tak memberatkan siswa baru. Karena tak ada kewajiban membawa barang atau atribut tertentu.

Siswa baru hanya mengenakan tabel name sebagai petunjuk identitas. Para siswa dibagi menjadi enam kelompok. Masing-masing kelompok 36 orang.

PLS di SMAN 10 diikuti 210 siswa baru. Termasuk dua siswa asal Papua yang mengikuti program afirmasi.

Kepala Sekolah SMAN 10 Basuki mengatakan, PLS digelar selama tiga hari. Dia menjamin tidak akanada unsur kekerasan yang mengarah pada perpeloncoan. PLS melibatkan guru dan anggota OSIS. Diawasi langsung oleh komite sekolah. “Jika ada indikasi hal-hal yang sifatnya menjadikan anak tertekan atau menuju pada kekerasan, segera laporkan saya,” pintanya.

PLS hari pertama memang hanya diisi materi seperti wawasan wiyata mandala, visi misi sekolah, dan penguatan pendidikan karakter. Penanaman kedisiplinan, ketertiban, dan rasa cinta Tanah Air, serta sikap menghargai antarteman dikemas dengan kegiatan baris-berbaris. Namun, pelaksanaannya setelah PLS.

Beda lagi pengalaman siswa baru di SMP dan MI Pondok Pesantren Alquran Wates (Pesawat), Yayasan Abi Hasan Tholabi di Kulonprogo. Hari pertama sekolah diisi kegiatan rukiah bagi seluruh siswa baru. Kegiatan ini memang tergolong langka. Tapi tak demikian bagi SMP dan MI Pesawat. Rukiah telah menjadi agenda rutin sejak 2012. Atau sejak pertama sekolah tersebut beroperasi.

Pengasuh SMP dan MI Pesawat punya alasan lain tentang hal itu. “Rukiah itu pengobatan hati dengan zikir dan doa untuk membersihkan hati para siswa baru,” ungkap KH Ahmad Saudi, salah seorang pengasuh SMP dan MI Pesawat.

“Sekolah telah minta izin kepada para orang tua siswa agar proses pengobatan hati berjalan lancar,” tambahnya.

Saat dirukiah para siswa bergiliran menghadap seorang guru yang ditunjuk menjadi perukiah. Selanjutnya anak-anak diminta meminum segelas air yang telah didoai. “Perukiah merupakan guru-guru pilihan kami. Untuk bisa jadi perukiah harus bisa hafal Alquran,” katanya.

Dengan ikhtiar itu para siswa diharapkan mampu menyerap ilmu yang diperoleh selama di sekolah. Sekaligus sembuh dari penyakit hati yang dibawa dari lingkungan asal. Sehingga mereka seolah membuka lebaran baru. Untuk menerima pemahaman agama yang lebih tinggi. “Supaya mereka tidak hanya pandai. Tetapi juga berkarakter,” harapnya.

Keyakinan akan kekuatan rukiah dilontarkan Muhammad Rizki Awaludin, 13. Saat SD dia juga pernah dirukiah. Dia yakin, setelah dirukiah akan dimudahkan segala sesuatunya. Hal senada disampaikan Ahmad Zaqqy, 13. Menurutnya, hati yang bersih akan mudah untuk menerima ilmu agama maupun pengetahuan lain yang diajarkan di sekolah. (cr15/tom/yog/rg).

Jogja Raya