SLEMAN – Sedikitnya 15 orang meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat di Bandara Internasional Adisutjipto Rabu (26/6) malam. Musibah itu terjadi setelah pesawat Tapir Air Type A320 dengan nomor penerbangan TP 103 rute penerbangan Jogjakarta (JOG) – Kuala Lumpur (KUL) tiba-tiba mengalami kerusakan mesin. Tak lama setelah take off. Pilot yang mengetahui ada kerusakan pada mesin langsung meminta izin untuk return to base di Adisutjipto.

Sampai di sektor D-15 pesawat yang mengangkut 162 penumpang mengalami crash. Pesawat terhempas sejauh 125 meter keluar runway 09-27.

Para penumpang lantas berlari berhamburan menyelamatkan diri saat asap hitam pekat mulai membumbung. Tidak berselang lama, mobil pemadam kebakaran dan ambulans tiba di crash area. Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan kobaran api. Sebagian lainnya mengenakan baju tahan panas berusaha mengevakuasi korban yang terjebak dalam kabin pesawat.

Korban yang berhasil menyelamatkan diri sebanyak 73 orang. Terdiri atas 8 orang crew dan 65 penumpang dievakuasi menggunakan ambulans.

Korban luka ringan 20 orang dibawa ke pasengger holding area. Pun demikian korban luka sedang 31 orang. Sementara korban luka berat 23 orang dilarikan ke RSPAU Hardjolukito. Sedangkan jasad korbanmeninggal ditangani tim DVI Polda DIJ.

Kecelakaan pesawat itu merupakan salah satu adegan latihan penanggulangan keadaan darurat (PKD) di  Bandara Adisutjipto. PKD ke-103 dan diselenggarakan dua tahun sekali ini untuk mengecek kesiapan para personel. “Kegiatan ini dilaksanakan untuk melatih dan menguji kemampuan personel ketika terjadi keadaan darurat di bandara,” ujar Direktur Operasi PT Angkasa Pura I (Persero) Wendo Asrul Rose.

Simulasi PKD sengaja dilakukan malam hari bukan tanpa alasan. Mengingat kejadian darurat dapat terjadi kapan pun. Sehingga fungsi koordinasi, komunikasi, komando, serta sinkronisasi antarunit dan instansi lebih teruji. Sesuai dengan dokumen penanggulangan keadaan darurat bandar udara (airport emergency plan), dokumen program keamanan bandar udara (airport security programme), serta standard operating procedure (SOP) yang berlaku di bandara. “Tingkat kesulitan PKD saat malam lebih tinggi. Kami ingin melihat bagaimana koordinasi antarpetugas. Apa saja kekurangannya, sebagai bahan evaluasi,” paparnya.

Saat proses evakuasi, lanjutnya, keselamatan jiwa penumpang adalah yang utama. Sehingga saat dievakuasi penumpang ditempatkan pada tenda dengan warna khusus. “Seperti warna hitam itu berarti MD, merah berarti luka berat. Jadi nanti tahu bagaimana penanganannya,” jelas Wendo.

General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Internasional Adisutjipto Agus Pandu Purnomo menambahkan, sifat latihan tadi malam merupakan penanggulangan keadaan darurat skala besar. Sehingga melibatkan tim dari banyak instansi dengan kompetensi masing-masing. Seperti kemampuan pemadaman api, pertolongan medis dan korban jiwa, penanggulangan bahan peledak, penanggulangan penyerangan dan penyanderaan. Serta pengamanan demonstrasi dan pengamanan tempat kejadian kecelakaan.

Menurut Agus Pandu, keadaan darurat merupakan suatu kondisi yang terjadi di luar kendali. Kondisi itu dapat membahayakan manusia, instalasi, peralatan, dan lingkungan di wilayah kerja bersama. “Melalui simulasi ini diharapkan seluruh unsur dan instansi yang terlibat lebih siap dan sigap,” katanya.

Tak kalah penting, lanjut Agus, dengan PKD kelalaian dalam pelaksanaan tugas setiap personel bisa diminimalisasi. (har/yog/rg)

Jogja Raya