Belum Ada Kepastian, Harga Tanah Masih Standar

SOLO – Rencana pembangunan jalan tol Jogja-Solo maupun Jogja-Bawen diprediksi bakal mengerek harga tanah. Khususnya di wilayah terdampak. Seperti tiga kecamatan di wilayah Sleman. Yakni, Kecamatan Gamping, Seyegan, dan Depok.

Kendati begitu, warga yang tinggal di sekitar lokasi terdampak justru merasa waswas. Lantaran hingga sekarang belum pernah ada sosialisasi dari pemerintah. Khawatirnya, properti mereka ikut terdampak pembangunan tol.

”Kami masih menunggu. Sejauh ini belum ada informasi,” jelas Camat Gamping Arief Marwoto saat dihubungi, Minggu (16/6).

Yang dimaksud Arief dengan informasi adalah perihal titik-titik yang akan dilintasi jalan bebas hambatan itu. Dari itu, kata Arief, warga Kecamatan Gamping hingga sekarang belum ada yang menjual propertinya. Harga tanah di wilayah itu masih standar. Tanah di pinggir ring road, contohnya. Harganya masih di kisaran Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per meter persegi. Sedangkan harga tanah yang berada di dalam perkampungan sekitar Rp 1 juta per meter persegi.

”Kalau memang kena (proyek tol) mau bagaimana lagi. Yang saya harapkan dan mungkin masyarakat yang lain agar nanti ketika ganti rugi harganya sesuai,” beber warga Dusun Susukan, Margokaton, Seyegan, Sleman, ini.

Sama halnya dengan wilayah barat, warga Maguwoharjo, Depok, Sleman, juga mengaku resah. Lantaran belum ada kejelasan terkait proyek exit toll Jogja-Solo.

”Sampai sekarang belum ada kejelasan. Tidak pernah ada sosialisasi juga. Malah saya kira tidak jadi,” kata Tumidi, seorang warga Dusun Gondangan, Maguwoharjo.

Meski bertujuan mengurai kemacetan, pria yang memiliki usaha sebagai tukang laundry itu mengaku keberatan dengan rencana proyek tol tersebut. Alasannya, warga yang tinggal beberapa meter dari Selokan Mataram ini khawatir kehilangan mata pencaharian jika rumahnya direlokasi.

”Kalau pindah harus adaptasi lagi. Harus nyari pasar lagi,” keluh pria yang sudah 30 tahun tinggal di dusun tersebut.

Namun, Tumidi hanya bisa pasrah. Toh, protesnya tidak akan berpengaruh terhadap rencana pemerintah. Dia hanya bisa berharap pemerintah memberikan ganti rugi tanah di atas harga pasar.

”Harga jual saat ini Rp 4 juta hingga Rp 8 juta per meternya,” sebutnya.

Setali tiga uang, progres pembangunan tol Jogja-Solo di wilayah Klaten. Pemerintah pusat maupun Pemprov Jawa Tengah belum pernah membuka titik-titik wilayah terdampak.

“Sampai saat ini informasi masih belum jelas. Apakah benar melewati Kecamatan Prambanan atau lebih ke utara lagi,” jelas Kasubid Penagihan dan Pemungutan Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Klaten Harjanto Hery Wibowo kepada Radar Solo (Jawa Pos Grup) belum lama ini.

Saat Jawa Pos Radar Solo menanyakan harga tanah di Kecamatan Prambanan yang disebut-sebut akan dilintasi jalan itu, Harjanto mengungkapkan masih terbilang standar. Untuk lahan tanah pertanian dengan luas sekitar 2.000 meter persegi (1 patok) dengan harga Rp 200 juta hingga Rp 300 juta. Sedangkan ada pula yang menjual setiap meter persegi pada harga Rp 100 ribu hingga Rp 350 ribu.

Harjanto mengungkapkan, tanah di Kecamatan Prambanan pada setiap lokasinya memiliki harga yang beragam. Hal itu disesuaikan dengan letak serta kondisi lingkungan sekitarnya sebagai bahan pertimbangan sebelum membelinya. Seperti harga tanah kavling di pinggir jalan di Kecamatan Prambanan sekitar Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta per meter persegi pun ada.

“Jadi kenaikan harga tanah di Kecamatan Prambanan sendiri bisa terjadi ketika jalan tol benar-benar terealisasi melintasi di sana. Kami prediksi ketika tanahnya dibeli dan uangnya itu akan dibelikan tanah lagi bisa memicu harga tanah juga,” jelasnya.

Di sisi lain, Harjanto mengungkapkan, jika kenaikan harga tanah di Kecamatan Prambanan juga dipicu oleh harga di Kota Jogja dan Kabupaten Sleman. Dirinya menyebutkan untuk harga tanah kapling di Kabupaten Sleman mencapai Rp 2 juta per meter persegi. Hal ini yang membuat warga Jogja lebih memilih membeli tanah maupun rumah di daerah Prambanan, Klaten sehingga ketersediaan tanah semakin menyempit.

“Kalau sampai saat ini aktivitas jual beli tanah dari pantauannya masih terbilang wajar belum ada pembelian secara masif. Sekalipun ada kita mengindikasikan yang bersangkutan ada seorang spekulan yang mencoba peruntungan,” ujarnya

Sementara itu, daerah lain yang disebut-sebut sebagai salah satu exit toll Jalan Tol Solo-Jogja berada di Desa Tempursari. Kepala Desa Tempursari Budi Diyatmiko mengungkapkan untuk harga tanah di Desa Tempursari sendiri kisaran Rp 1 juta- Rp 1,5 juta per meter persegi.

“Ini mengalami kenaikan jika dibandingkan pada 2013 lalu sekitar Rp 750 ribu per meter. Kenaikan harga tanah di desa kami lebih dipicu  karena adanya pembangunan perumahan dan perkembangan di Tempursari yang semakin pesat,” jelasnya. (har/ren/bun/zam/zl)

Jogja Raya