KULONPROGO – Ombak besar menerjang kawasan objek wisata Pantai Trisik, Kulonprogo Selasa (11/6) petang. Saat itu gelombang tinggi mencapai lima meter. Terjangan ombak merusak beberapa bangunan di bibir pantai. Bahkan menyebabkan beberapa pengunjung terluka. Mereka tak sadar datangnya gelombang pasang secara tiba-tiba.

Air laut yang menerjang daratan mendorong pasir pantai hingga menimbun pohon cemara udang. Batang pohon sabuk hijau setinggi dua meter itu pun jadi tampak hanya separo.

“Air laut juga menerjang area objek wisata dan pelataran penangkaran pusat konservasi penyu abadi Trisik,” ungkap anggota Sar Rescue Istimewa (SRI) Wilayah V Kulonprogo Dwi Surya Rabu (12/6).

Tak hanya itu, ombak besar juga menghempas kios-kios pedagang dan gardu-gardu santai di tepi pantai.

Beberapa pedagang tergopoh-gopoh menyelamatkan barang dagangan mereka. Sebagian lainnya pasrah lapak mereka diterjang ombak.

Air laut juga menggenangi wahana hiburan di tepi pantai. Seperti kolam berenang anak. Menurut Wajio, warga setempat, kerugian yang dialami mencapai puluhan juta rupiah. “Gelombang tinggi seperti ini biasa terjadi. Namun kali ini cukup parah merusak,” keluhnya.

Sementara itu, gelombang tinggi di wilayah Bantul memaksa puluhan nelayan Pantai Depok tak melaut. Mereka pasrah. Daripada harus melawan risiko alam dengan taruhan nyawa. Apalagi hasil tangkapan ikan tak seberapa. Tidak sebanding dengan risiko yang dihadapi nelayan. “Saat ini lagi musim paceklik ikan. Tangkapan sedikit. Paling cuma dapat teri, kakap putih kecil, dan lele laut,” ungkap Tarjo, 57, nelayan Pantai Depok, Rabu(12/6) .

Selain ombak besar, hingga setinggi tiga meter, tiupan angin terlalu kencang. Kondisi itu, menurut Tarjo, sangat membahayakan nelayan. Perahu mudah oleng dan bisa tenggelam setelah menabrak ombak.

Karena itu para nelayan pilih memarkir perahu mereka di dekat bibir pantai. Tempat pelelangan ikan (TPI) pun tutup. Tak ada aktivitas. Tak mau menganggur para nelayan mengisi kesibukan dengan merajut jaring. Sambil berharap gelombang tinggi segera surut. “Sudah sejak tiga hari lalu kami tak melaut,” lanjut Tarjo.

Ketua TPI Mina Bahari Depok Tarmanto mengungkapkan, saat musim ikan nelayan Pantai Depok mampu menyetor 50 kilogram ikan. Namun saat paceklik tak lebih dari 10 kilogram. Hasil tangkapan tersebut hanya mampu mencukupi kebutuhan ikan di pasar lokal. Tak bisa untuk ekspor. “Komoditas pasar luar negeri hanya layur dan bawal,” katanya.

Terpisah, Kepala Stasiun Klimatologi Mlati, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIJ Reni Kraningtyas memprediksi gelombang tinggi pantai selatan masih akan berlangsung hingga Minggu (16/6). Dengan ketinggian bervariasi. Hari ini (13/6) tinggi gelombang diperkirakan antara 3,5-5 meter. Jumat 914/6) 3,5-4 meter. Selanjutnya pada Sabtu-Minggu (15-16 Juni) gelombang laut mulai turun menjadi 2,5-3,5 meter.

Menurut Reni, gelombang tinggi merupakan kondisi alamiah selama musim kemarau. Biasa terjadi pada Juni-Agustus. Itu sebagai dampak angin kencang di wilayah barat dan timur Australia. Tekanan angin dari arah timur sekitar 1.026 hektopascal (hPa).

Tekanan udara tinggi menyebabkan dorongan angin dari perairan Australia ke utara. Hingga laut selatan Jawa. Sementara angin dari arah timur yang berada di perairan Australia bergerak konsisten. Pemicu gelombang tinggi dan angin kencang adanya gangguan siklon tropis di Samudra Hindia. Ini yang menyebabkan kekuatan gelombang dan angin kencang cenderung naik turun.(tom/cr5/cr6/yog/rg)

Jogja Raya