JOGJA – Persentase makanan yang mengandung zat berbahaya di pasar rakyat mengalami penurunan. Itu terlihat dari hasil pemeriksaan terhadap 205 sampel makanan yang diambil dan diperiksa Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DIJ.

Kepala BBPOM DIJ Rustyawati mengungkapkan, 205 sampel itu diambil dari tiga pasar rakyat besar di DIJ. Yakni, Pasar Beringharjo, Pasar Bantul, Pasar Argosari, Wonosari, dan beberapa toko modern. Sampel-sampel makanan yang diambil selama bulan Ramadan itu telah diuji. Hasil pemeriksaan terhadap sampel di Pasar Beringharjo, misalnya. Sebanyak 14 persen di antaranya mengandung zat berbahaya.

”Semula 17 persen,” jelas Rustyawati di kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIJ, Jumat (17/5).

Persentase temuan di Pasar Bantul dan Pasar Argosari juga mengalami penurunan. Menurutnya, mayoritas temuan di tiga pasar itu dari kerupuk dan teri. Kerupuk mengandung pewarna rhodamin B. Sedangkan teri positif mengandung metanil yellow.

Yang menarik, kata Rustyawati, temuan kerupuk yang mengandung rhodamin B tak lagi berwarna merah muda. Sebagian ada yang berwarna oranye kecokelatan. Ada pula yang berwarna ungu.

”Awalnya kami tidak menduga jika mengandung rhodamin B. Tapi setelah diperiksa ada kandungannya,” ujarnya.

Rustyawati menduga perubahan warna itu sebagai upaya produsen mengelabui petugas. Produsen mencampurnya dengan warna lain.

”Jadi, warnanya (kerupuk) tak pink lagi,” ucapnya.

Dari pemeriksaan juga diketahui bahwa makanan yang mengandung zat berbahaya dari luar DIJ. Misalnya, Purworejo dan Magelang.

Selain mengandung zat berbahaya, Rustyawati menyebut BBPOM juga menemukan kemasan makanan yang tak layak. Di antaranya bahkan ada yang berkarat.

”Ada juga yang berjamur,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Rustyawati juga menyinggung hasil pengawasan terhadap makanan takjil. Dari 79 sampel yang diperiksa, satu persen di antaranya mengandung zat berbahaya. (cr8/zam/zl)

Jogja Raya