JOGJA – Dulu dikenal sebagai kampung dengan endemi demam berdarah dengue (DBD). Tapi kini warga kampung Jatimulyo Kricak Tegalrejo Kota Jogja berani mencanangkan sebagai kampung bebas DBD. Itu karena penyebaran nyamuk aedes aegypti yang mengandung bakteri wolbachia yang dilakukan oleh Eliminate Dengue Project (EDP).

Kampanye memerangi DBD di Jatimulyo dimulai dengan penyebaran nyamuk aedes aegypti berwolbachia dilakukan sejak 2016. “Sejak saya menjadi RT ini sudah tidak ada korban yang terkena penyakit DBD, ” kata Ketua RT 02 Kampung Jatimulyo Widodo saat ditemui Radar Jogja, Minggu (28/4).

Menurut Widodo, upaya itu berawal dari program yang dikerjakan oleh EDP, bersama Fakultas Kedokteran UGM dengan sosialisiasi kepada warganya. Setelah melalui beberapa kali pertemuan, warga akhirnya setuju di lingkungannya dijadikan ujicoba pelatakan nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia.

Mereka kemudian meletakkan telur nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia di dalam ember pada setiap rumah di wilayah RT 02 Kampung Jatimulyo. “Alhamdulillah setelah tiga sampai empat bulan sudah tidak ada lagi korban berjatuhan,” tuturnya.

Sebelumnya, wilayah Kricak termasuk yang paling tinggi temuan kasus DBD di Kota Jogja. Apalagi di kelurahan Kricak merupakan wilayah yang dilalui dua sungai, yakni Sungai Winongo dan Sungai Buntung.

Dulu, kenangnya, tiga sampai lima warga khusus RT 02 menjadi korban DBD. Bahkan ada yang hingga meninggal dunia karena DBD. Widodo menceritakan bahwa dulu kawasan yang sekarang ini sudah dibangun RTHP merupakan pekarangan biasa yang kumuh dan penuh sampah sehingga menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, “Dulu itu warga disini kalau untuk masalah kebersihan malas, apalagi masalah pencegahannya,” jelas dia.

Tanah pekarangan biasa itu, kata Widodo kemudian dibeli Pemkot Jogja. Dengan dukungan dari warga sekitar. Hingga sekarang pekarangan yang tadinya merupakan kawasan kumuh disulap menjadi ruang terbuka hijau publik (RTHP). Dengan beberapa fasilitas bermain anak, gazebo, panggung untuk hiburan, dinding bermural, hingga tanaman hijau. “Dulu ini habis Rp 1,36 miliar.  Pemkot waktu itu kasih stimulan ke kami Rp 1 miliar dan sisanya ditanggung oleh warga tiap kepala keluarganya kena Rp 250.000,” jelasnya.

Selain sudah terbebas dari kawasan penyakit DBD, salah satu RT 02/RW 01 Kampung Jatimulyo menjadi kawasan yang ramah lingkungan, bersih, dan rapi.

Sampai dengan sekarang Widodo terus menggerakkan warganya, sebanyak 128 KK untuk gotong royong kerjabakti setiap dua kali dalam sebulan. “Sekarang alhamdulillah sudah tidak ada lagi penderitaan yang terkena penyakit DBD, karena hidupnya sudah berubah dari sebelumnya yang ngawur, ceroboh,” katanya.

Keberhasilan itu pun diakui oleh dunia. Buktinya dengan kunjungan isteri filantropis, Bill Gates, Melinda Gates yang pada 2017 lalu sempat blusukan kampung. Juga Gubernur Victoria Australia Linda Dessau yang menggoreskan pesan pada mural di dinding.

Sebelumnya Adi Utarini, peneliti utama Eliminate Dengue mengungkapkan, teknologi wolbachia adalah cara alami mengendalikan DBD. Sebab, berdasarkan data, ada peningkatan populasi aedes aegypti pada musim awal penghujan. Nah, persentase aedes aegypti ber-wolbachia di Kota Jogja juga stabil tinggi.

”Penyebaran nyamuknya (ber-wolbachia) telah dilakukan sejak 2017,” ujarnya.

Menurut dia, studi aplikasi wolbachia dalam eliminasi dengue (AWED) juga menjadi salah satu cara mendeteksi secara dini apakah seorang pasien menderita DBD atau tidak. Caranya dengan meneliti dan merekrut pasien yang mengalami gejala demam. Bahkan, studi AWED juga bisa menjadi cara untuk menangani penyakit-penyakit yang dibawa nyamuk aedes aegypti, seperti virus zika.

”Studi ini akan memberikan bukti yang paling kuat,” tegasnya.

Adi menekankan pentingnya tindakan pencegahan. Sebab, pencegahan secara terus-menerus adalah kunci untuk mengurangi DBD. Di sisi lain, penyakit yang dibawa nyamuk aedes aegypti itu akan selalu ada sepanjang tahun. Tidak hanya di musim-musim penghujan.

Di juga menyebut bakteri wolbachia diketahui dapat menekan replikasi virus dengue karena mampu berkompetisi dengan virus saat merebut makanan di sel tubuh nyamuk. Bakteri juga diketahui tidak bisa ditularkan ke manusia oleh nyamuk. (cr15/pra/by)

Jogja Raya