JOGJA – Memasuki musim pancaroba seperti ini, masyarakat diimbau untuk meningkatkan ketahanan tubuh, agar tidak sakit. Pancaroba memang berdampak pada kondisi kesehatan tubuh. Ini karena tubuh manusia harus menyesuaikan diri selama terjadi perubahan. Apalagi pergantian suhu bisa terjadi dalam rentang waktu cepat.

Kepala Bidang Pelayanan Medis Klinik Gadjah Mada Medical Center (GMC) Novrida menjelaskan, untuk mengantisipasinya kuncinya menjaga pola hidup sehat. Selain itu juga meningkatkan porsi asupan buah-buahan dan mengurangi makanan yang dapat merangsang munculnya batuk dan pilek.”Perbanyak air putih, serta olahraga teratur setidaknya tiga kali seminggu minimal selama 30 menit,” ujarnya.

Berdasarkan catatan GMC Jogjakarta ada peningkatan pasien selama dua bulan terakhir. Terbukti 75 persen pasien di antaranya menderita batuk dan pilek. Meski tidak sampai menginap, angka pasien berobat terus bertambah. Menurutnya, kalau dalam kondisi normal, batuk pilek itu bisa sembuh medio tiga sampai lima hari. Tapi kalau dalam fase cuaca saat ini bisa bertahan lebih lama.”Lebih bandel sakitnya bahkan bisa sampai tujuh hari,” katanya.

Ya, memasuki dasarian tiga, iklim di Jogjakarta mulai memasuki pancaroba. Hanya saja peralihan musim penghujan ke musim kemarau belum merata. Ini karena masih ada potensi hujan curah tinggi di Gunungkidul dan Sleman.

Kepala Data dan Informasi Staklim BMKG Jogjakarta Djoko Budiono menuturkan indikasi pancaroba tidak selamanya kering. Staklim BMKG justru memprediksi ada peningkatan curah hujan medio dasaran tiga April. Setidaknya curah hujan mencapai 20 hingga 75mm/dasarian.

Menurutnya, dasarian dua  berkisar 0 hingga 50 mm/dasarian, masuk kategori rendah. Tapi di waktu yang sama untuk kawasan Gunungkidul bagian tengah dan Sleman curah hujan berkisar 51 hingga 200 mm/dasarian.”Ini tergolong masih cukup tinggi,” jelasnya.

Pada masa pancaroba, hujan berpeluang muncul saat siang hingga malam hari. Pergantian musim diawali dari Jogjakarta sisi selatan dan timur. Kemudian merangsek ke sisi tengah hingga utara. Musim kemarau diprediksi terjadi dasarian pertama Mei.

Terkait cuaca panas ada beberapa penyebab Posisi matahari, lanjutnya, berada dekat dengan garis equator. Artinya intensitas sinar matahari tergolong cukup tinggi. Imbasnya ada peningkatan suhu terutama pada siang hari.

“Lalu kondisi cerah sehingga tidak ada penghalang panas matahari masuk ke bumi. Ditambah lagi efek urban head island, banyaknya bangunan lalu aspal hitam yang menyerap panas. Tapi belum tergolong ekstrem masih normal,” ujarnya. (dwi/din/zl)

Jogja Raya