JOGJA – Ada yang kecewa. Ada pula yang memanfaatkan momentum. Itulah ragam respons wisatawan terhadap renovasi umbul bagian tengah Tamansari.

Ya, Umbul Binangun direnovasi. Kontruksinya banyak yang rusak akibat gempa bumi 2006. Namun, pengelola Tamansari tidak menyosialisasikan renovasi umbul di salah satu situs bersejarah itu. Akibatnya, tidak sedikit wisatawan yang kecewa.

”Kecewa. Saat ke sini pas ada pembangunan. Jadi, tidak sesuai ekspektasi seperti di internet,” keluh Hayyin, seorang wisatawan, Rabu (24/4).

Bersama tiga temannya, wisatawan asal Mojokerto, Jawa Timur, ini sengaja jauh-jauh datang ke Kota Jogja untuk berlibur. Selain Malioboro, mereka ingin berkunjung sekaligus berswafoto di Tamansari. Background-nya Umbul Binangun yang legendaris itu.

Kendati begitu, ada pula wisatawan yang justru tertarik dengan renovasi Umbul Binangun. Salah satunya Fransiscus Joko. Wisatawan asal Semarang, Jawa Tengah, ini mengaku puas bisa melihat kondisi Umbul Binangun yang sedang direnovasi. Lantaran proses renovasi membuat bahan kontruksi Umbul Binangun terlihat.

”Bata merahnya beda dengan bata rumahan. Airnya saya kira diisi dari atas, ternyata dari bawah, seperti sumur,” ucapnya semringah.

Koordinator Maintenance Tamansari Muhammad Ridwansyah mengungkapkan, Umbul Binangun pada 2005 pernah direnovasi total. Hanya, gempa bumi 2006 membuat sebagian kontruksi umbul retak.

”Retakannya semula hanya kecil. Lama-kelamaan membesar,” ungkapnya.

Menurutnya, proses renovasi umbul cukup sulit. Lantaran posisi dasar umbul sejajar dengan permukaan sumur, sehingga kerap muncul genangan air. Jadi, petugas harus kerap membersihkannya dengan lima mesin pompa air.

”Sebelum lebaran (renovasi) sudah selesai,” katanya.

Selain Umbul Binangun, kata Ridwansyah, pengelola sebelumnya merenovasi Umbul Muncar. Umbul yang terletak di sebelah utara Umbul Binangun itu direnovasi November 2018.

”Selesai Januari (2019. Kasusnya sama, ada retakan dan bocor,” ujarnya.

Meski berada di area Tamansari, Ridwansyah memastikan Umbul Binangun bukan termasuk situs cagar budaya. Yang dikategorikan cagar budaya hanya payung yang terletak di bagian tengah kolam.

”Payung itu melambangkan lotus,” ungkapnya.

Ketika disinggung pengelola tidak menyampaikan pemberitahuan, Ridwansyah meminta maaf. Dia berjanji bakal memasang papan pemberitahuan. Kendati begitu, Ridwansyah menilai, proses renovasi justru membuat wisatawan tertarik.

”Justru wisatawan penasaran dengan konstruksinya karena mata airnya terlihat,” jelasnya. (cr15/dwi/zam/rg)

Jogja Raya