JOGJA – Sembilan puluh persen penyebab bergabungnya seseorang ke gerakan radikal atas ajakan kawan dan keluarga. Demikian disampaikan mantan napi kasus terorisme, Ali Fauzi. Dia memastikan metode ini sudah menjadi pola rekrutmen untuk menarik simpatisan.

Pria yang pernah terlibat aksi terorisme Bom Bali dan JW Marriott Hotel membongkar pola rekrutmen tersebut. Paham radikal, lanjutnya, merasuk melalui paham keagamaan. Terlebih dengan menyelewengkan ajaran agama menjadi pemikiran sesat.

“Mereka menawarkan sebuah ideologi yang seakan rahmatan lil alamin. Lalu dijanjikan surga semu jika bergabung dengan kelompok itu,” tegasnya dalam forum group discusion (FGD) Perangi Radikalisme di Sahid Rich Hotel (21/3).

Pola rekrutmen telah merambah sosial media. Dimana banyak akun yang membahas kajian-kajian agama. Namun kajian tersebut disusupi paham radikal. Ali menuturkan pada awalnya calon simpatisan akan menerima secara terbuka.

Pascapendekatan, ada beberapa pergerakan. Bagi penyimak aktif, akan merasuk dalam segala tindak tanduk perbuatan. Sementara untuk simpatisan, cenderung seperti sel tidur dan tidak terlihat di permukaan.

Kedua tipe itu menurut Ali tetap berbahaya. Bahkan tidak menutup kemungkinan melakukan rekrutmen dengan pola serupa. Guna mengantisipasinya, perlu pendekatan secara kompleks. Tidak hanya ketegasan aparat penegak hukum, tapi juga langkah persuasif dan edukatif dari keluarga.

“Radikalisme lalu menjelma jadi aksi terorisme. Pendekatannya memang seperti itu, melalui kawan atau keluarga. Itulah mengapa terkadang objek rekrut tidak merasa, dan bisa menerima,” ujarnya.

Terkait pergerakan, Ali mengakui mulai berani unjuk diri. Bahkan saat ini metode-metode perekrutan dilakukan secara terbuka. Baik melalui pertemuan langsung maupun kajian di sosial media.

Pencegahan bisa dilakukan dengan pembekalan sedari dini. Khususnya tentang pemahaman dan ilmu akan agama. Bekal kerokhanian dapat menjadi benteng menghadapi pendekatan pola pikir radikal.

“Beragam sasarannya. Mulai dari yang tipikal penurut, hingga yang kritis. Tidak hanya mahasiswa, sasarannya juga pelajar. Dalam kasus ini peran orang tua sangat penting,” katanya.

Dalam kegiatan ini, Polda DIJ juga menjalankan komitmen bersama Kanwil Kemenag DIJ. Berupa komitmen memerangi paham radikal yang tidak sejalan dengan Pancasila dan semangat NKRI.

Kapolda DIJ Irjen Polisi Ahmad Dofiri berharap perang terhadap radikalisme menjadi tanggung jawab bersama. Jajarannya tidak bisa bekerja sendiri tanpa komitmen kuat seluruh masyarakat.

“Bagaimanapun radikalisme adalah ancaman bagi bangsa dan negara. Mendengar sendiri dari kesaksian eks napiter (nara pidana terorisme) mulai dari pendekatan hingga doktrin yang ditanamkan. Sangat bertentangan dengan semangat NKRI dan paham Pancasila,” jelasnya.

Polda DIJ, lanjutnya, melakukan pendekatan aktif dari berbagai aspek. Termasuk sinergitas dengan Kanwil Kemenag DIJ. Perannya dengan pencegahan melalui pemahaman agama yang kuat.

“Jogjakarta ibarat Indonesia mini, lalu banyak pelajar yang menimba ilmu di sini. Peran Kanwil Kemenag tentu sangat penting di tingkat pelajar, mahasiswa hingga lingkup pondok pesantren,” ujarnya. (*/dwi/iwa/mg3)

Jogja Raya