JOGJA – Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polresta Jogja,Februari lalu, berhasil mengungkap peredaran ganja skala besar. Termasuk menemukan ladang ganja, dengan dengan total 1.083 pohon ganja siap panen di Waduk Jatiluhur Purwakarta, Jawa Barat.

Jalan panjang investigasi ganja Purwakarta memiliki kisah tersendiri. Awalnya penyidik Satresnarkoba Polresta Jogja menganggap kasus ini layaknya peredaran pada umumnya.

Kapolresta Jogja Kombespol Armaini menuturkan ada perbedaan mendasar saat ungkap pertama. Ganja telah datang dalam bentuk paket hemat. Normalnya jalur perdagangan tradisional ganja dikemas dalam bentuk bal paket.

“Biasanya dikeringkan lalu dipadatkan dalam bal paket. Dikemas pakai isolasi warna kuning dan beratnya kisaran satu kilogram perbalnya. Ini kok beda, ganja juga belum sepenuhnya kering,” jelasnya ditemui Rabu malam (6/3)

Perwira menegah tiga melati ini mengakui awalnya penyidik tidak curiga. Namun setelah mendapatkan beberapa paket ada pola yang berbeda. Meski dari segi jenis, ganja Purwakarta tidak berbeda dengan kiriman dari Aceh.

Sebagai sosok yang lahir di Tanah Rencong, dia tidak menampik keidentikan. Dalam berbagai kasus, ganja datang dari ujung Pulau Sumatera tersebut. Biasanya melalui jalan darat dan diedarkan di Pulau Jawa. Bisa dibawa sendiri atau dikirimkan lewat jalur ekspedisi.

“Produksinya dari Aceh itu terkenal dari dulu. Biasanya pakai bus atau truk lintas provinsi hingga akhirnya menyeberang ke Jawa. Jalur tradisionalnya seperti itu,” ujarnya.

Menurut dia kasus ini bukti bahwa ganja semakin dekat dengan sasarannya, konsumen di Jogja. Di mana penanaman sudah masuk ke wilayah di Pulau Jawa.

Bahkan tidak menutup kemungkinan ditanam dalam skala kecil. Armaini mencontohkan pada medio Oktober tahun lalu. Saat jajaran Satresnarkoba Polresta Jogja mengamankan dua orang pelaku penyalahguna narkotika. Bukannya membeli, kedua tersangka Tommy dan seorang WNA Jepang inisial KNK, menanam sendiri pohon ganja.

“Membuka mata bahwa ganja diproduksi di satu kawasan saja. Ini semakin dekat ke konsumen lho. Tanam pakai pot di belakang rumah juga bisa. Salah satu bukti ya yang dua seniman itu,” katanya.

Apapun sumbernya, Armaini menegaskan tetap tidak membenarkan penyalahgunaan narkotika. Terlebih ada aturan baku yang mengatur peredarannya. Di satu sisi dia meminta seluruh jajaran membuka mata. Khususnya turut berperan dalam menjaga Jogjakarta dari bahaya penyalahgunaan narkotika.

Jogjakarta, jelas dia, adalah pasar empuk padar pengedar dan bandar. Bedanya narkotika terutama ganja masuk ke Jogjakarta dalam paket hemat. Tujuannya agar mudah terjangkau oleh pembeli. Sasarannya mulai dari pelajar hingga pekerja.

“Tidak bisa lagi merasa aman dari tanaman ganja. Apalagi sekarang ada paket hemat yang bisa terjangkau kantong pelajar hingga pekerja. Sehingga penting bagi kami untuk menyasar langsung pokok utamanya (pengedar),” tegasnya.

Sebelumnya Kabid Pemberantasan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIJ AKBP Sudaryoko mengakui pengedar dan penjual, terus menerapkan mekanisme transaksi baru. Mulai dari taruh alamat, melalui kurir hingga jasa ekspedisi. Salah satu kasus terbesar yang ditangani BNNP DIJ adalah sabu dari Thailand. Tidak main-main, dua pelaku perempuan membawa 1,1 kilogram dari Thailand. Selanjutnya narkotika impor ini akan dijual dalam paket kecil. Salah satu sasarannya adalah Jogjakarta.  (dwi/pra/mg4)

Jogja Raya