GUNUNGKIDUL – Dinas Tenaga dan Transmigrasi DIY melaksanakan kegiatan padat karya infrastruktur di lima kabupaten dan kota-se-DIY. Termasuk di Kabupaten Gunungkidul. Tahun ini padat karya infrastruktur di Gunungkidul dipusatkan di enam kecamatan.

“Totalnya terpusat di delapan titik atau lokasi,” kata Anggota Komisi D DPRD DIY Endang Setyani, Rabu(6/3). Menurut Endang, delapan lokasi yang berada di enam kecamatan itu meliputi Dusun Ngepoh, Semin, Semin, Bonpon, Pundungsari, Semin dan Dusun Munggur RT 01 RW 02, Ngipak, Karangmojo, Gunungkidul.

Kemudian Dusun Wareng, Kepek, Saptosari, Baran, Salam, Patuk, Turi, Sidorejo, Ponjong dan Dusun Bulak Gemisir, Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul.

Seperti diketahui, Tahun Anggaran (TA) 2019 ini, Pemda DIY mengalokasikan anggaran kegiatan padat karya infrastruktur sebesar Rp 8.385.000.000 (delapan miliar tiga ratus delapan puluh lima juta rupiah).

Dana sebesar itu terbagi untuk 65 lokasi di kabupaten dan kota se-DIY. Setiap lokasi mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp 129 juta. Seluruh anggarannya bersumber dari  APBD DIY  Tahun Anggaran (TA) 2019. Dana tersebut kemudan ditransfer ke pemerintah kabupaten dan kota se-DIY. Mekanismenya melalui bantuan keuangan khusus (BKK).

“Dari jumlah itu, BKK yang diterima Gunungkidul untuk delapan lokasi itu mencapai Rp 1,03 miliar,” jelas Endang. Dana tersebut seluruhnya digunakan untuk pembangunan cor blok jalan.

Dengan adanya kegiatan padat karya infrastruktur itu, Endang berharap bukan sekadar menyerap tenaga kerja. Lebih dari itu, padat karya itu berdampak untuk pemberdayaan masyarakat. Menekan angka penganggur, setengah penganggur dan masyarakat miskin.

Kemudian meningkatkan asesibilitas masyarakat terhadap pusat-pusat layanan sosial dasar. Juga meningkatkan kualitas dan kuantitas pengembangan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Endang ingin perekonomian di kantong-kantong kemiskinan dapat dikurangi. Di samping itu, dapat meningkatkan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan. Juga terpeliharanya kearifan lokal berupa semangat gotong- royong di masyarakat.

Selain itu, meningkatkan daya beli masyarakat, menciptakan perputaran keuangan di daerah dan mencegah urbanisasi masyarakat desa ke kota.

Dengan terserapnya tenaga kerja, Endang berharap dapat memerluas kesempatan kerja. Khususnya penciptaan lapangan kerja yang bersifat sementara sehingga dapat menambah penghasilan masyarakat. Terbangunnya sarana dan prasarana infrastruktur pedesaan yang menunjang tumbuh kembangnya kegiatan ekonomi daerah.

Sasaran padat karya infrastruktur adalah pemberdayaan masyarakat penganggur, setengah penganggur, masyarakat miskin dan masyarakat rentan. Yakni korban  pemutusan hubungan kerja (PHK), mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan lainnya. Rata-rata masyarakat rentan ini mempunyai latar belakang pendidikan SD hingga SLTP.

Pekerjaan dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu. Atau di musim sepi kerja. Sifat pekerjaan memberikan penghasilan langsung kepada penganggur dan setengah penganggur. “Bermanfaat bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” harap dia.(kus/mg2)

Jogja Raya