SLEMAN – Sejak peristiwa Geger Sepehi yang terjadi 1812, Keraton Jogjakarta kehilangan banyak naskah. Bahkan saat itu hanya tersisa tiga naskah saja. Melalui proses panjang, akhirnya berhasil terkumpul 75 naskah dalam bentuk digital.

Menurut Sejarawan Prof. Djoko Suryo, pada saat peristiwa itu, lebih dari 7.000 naskah yang dibawa ke Inggris. Peristiwa itu terjadi saat pemerintahan Sultan HB II. Dia mengatakan, naskah kuna adalah darah kehidupan sejarah yang dianggap sebagai  representasi dari berbagai sumber lokal yang paling otoritatif. Naskah kuno juga otentik dalam memberikan informasi dan tafsir sejarah pada masa tertentu.

Sejak lima tahun lalu, Raja Keraton Jogja Hamengku Buwono (HB) X melakukan pembicaran dengan British Library terkait pengembalian naskah. Hingga sementara terkumpul 75 naskah digital. Sedangkan sisanya tengah berusaha dikumpulkan. Naskah tersebut dipamerkan dalam pembukaan Simposium Internasional bertajuk Budaya Jawa dan Naskah Keraton Jogjakarta di Hotel Royal Ambarukmo Jogja, Selasa(5/3). Selain sebagai upaya merangkai sejarah, Simposium Internasional tersebut dalam rangka peringatan 30 tahun Masehi Sri Sultan Hamengku Buwono X Bertakhta.

“Kami berharap bisa recovery semuanya. Dengan ini kami ingin mewujudkan bahwa dan bisa memanfaatkan itu melalui simposium,” kata Ketua Panitia Simposium Internasional GKR Hayu.

Berbagai naskah yang telah 207 tahun berada di Inggris, tahun ini akan diserahkan kepada keraton dalam bentuk digital. Momentum tersebut dianggap penting untuk diperingati dengan kagiatan akademik. Tujuannya, agar pengetahuan tentang Jawa yang telah hilang bangkit kembali.

“Hal ini diharapkan bisa menjadi wahana bagi para akademisi, praktisi, dan pemerhati untuk merangkai kembali jejak-jejak warisan para leluhur,” ujar puteri keempat HB X itu.

Keraton sebagai pusat kebudayaan pun hingga saat ini, terus memelihara terus memelihara karya-karya peninggalan. Baik dalam bentuk serat, babad, atau cathetan warna-warni lain.

HB X sendiri mengatakan ditemukannya naskah kuno membuktikan bahwa sejak lama Indonesia memiliki bendera komunikasi. Yakni bahasa kebudayaan. Dia pun berharap Simposium Internasional bisa menjadi bahan pembelajaran bagi setiap universitas di Jogjakarta. Khususnya fakultas terkait budaya, agar tujuan simposium bisa berkelanjutan.

“Budaya Jawa penuh bunga-bunga semerbak. Menyimpan aroma khas,” ujarnya.

Menurut dia, aspek-aspek falsafah hidup budaya Jawa sarat akan makna-makna kehidupan. Meski terkesan kuno, HB Xmengakui bahwa budaya Jawa memiliki sifat aktualitas. Hal itu pun diyakini mampu menjadi falsafah dalam menghadapi industri 4.0.

HB X menjelaskan, proses untuk mendapatkan naskah-naskah kuno dari British Library tidak mudah. Namun dia tetap yakin bisa mendapatkannya kembali. Baginya, pengembalian naskah itu menjadi langkah awal yang baik. “Walaupun dalam bentuk digital,” ungkapnya.  (cr9/pra/mg2)

Jogja Raya