JOGJA – Selasa pagi (29/1) tadi aktivitas di Kelenteng Poncowinatan tampak lebih sibuk dari biasanya. Sejumlah umat dan pengurus keelenteng yang bernama asli Klenteng Tjen Ling Kiong atau Zhen Ling Gong ini melakukan bersih-bersih.

Mulai dari arca dewa-dewi, bendera, lampion, pelengkapan ibadah, hingga sudut-sudut altar. Pembersihan dilakukan secara kering maupun basah dengan air kembang.

Pengurus Kelenteng Margomulyo menjelaskan, kegiatan bersih-bersih ini rutin dilakukan satu tahun sekali, setiap menjelang Tahun Baru Imlek. Tepatnya enam hari sebelumnya. “Di tanggal ini kami percaya dewanya sudah naik ke surga atau laporan ke atas, kalau masih ada dewanya kami tidak berani membersihkan,” paparnya.

Kelenteng yang dibangun sejak tahun 1881 ini memiliki 17 altar. Digunakan untuk peribadatan umat agama Tri Dharma yakni Buddha, Konghucu, dan ajaran Tao. Altar utama dan yang terbesar yakni altar ”tuan rumah”. Di altar tersebut berdiri arca Dewa Kwan Kong atau juga disebut dewa perang.

Salah satu relawan kelenteng Endhy Gani Widjaya menjelaskan, pemilihan Dewa Kwan Kong sebagai tuan rumah berdasarkan kesepakatan leluhur atau umat di generasi jauh sebelumnya. “Dewa Kwan Kong ini juga dewa keadilan, dewa perang, ahli dagang, jenderalnya jenderal lah,” ujarnya.

Endhy menegaskan, ritual yang dilakukan di Kelenteng yang terletak di utara Pasar Kranggan ini lebih kental dengan sikap menghormati para leluhur. (tif/ila)

Jogja Raya