JOGJA – Peluh keluar dari para pekerja di rumah produksi Ny Seneng. Dua minggu menjelang tahun baru Imlek, pesanan kue keranjang mulai membludak. Produksi pun meningkat seiring dengan naikknya permintaan.

Saat Radar Jogja bertandang ke rumah produksi yang berada di jalan Tukangan Danurejan Jogja Selasa (22/1), para karyawan tak berhenti mengolah kue keranjang.Mulai dari memasak gula, menggiling beras ketan, mengayak tepung, sampai memasukkan ke dalam cetakan.

Untuk memenuhi pesanan, dalam sehari di rumah produksi Ny Seneng harus mengolah lebih dari 600 kue keranjang. Atau sekitar 150 kg.

“Tahun ini pesanan meningkat, beda dari tahun sebelumnya. Tidak hanya dari Jogja tapi luar Jogja juga banyak yang pesan seperti Magelang dan Jombong,” ujar pemilik Sulistyowati.

Menurut Sulistyowati, ada 10 karyawan yang mulai memproduksi sejak pukul 05.30 pagi hingga malam hari. Semua pekerja sudah ada bagiannya masing-masing. “Ya beberapa mempersiapkan cetakan, beberapa mengayak, ada yang menguleni adonan dan mengukus,” ungkapnya.

Sulistyowati mengatakan, pesanan baru dia produksi mulai 16 Januari lalu. Namun pesanan setiap hari datang dalam jumlah yang banyak.Untuk agen luar kota bisa memesan lebih dari 20 kilogram, untuk di kota atau vihara-vihara bisa 10 kilogram.

Kue keranjang ini dibanderol dengan harga Rp 40 ribu per kilogram. Dalam satu kilo berisi empat kue keranjang dengan ukuran beragam. Berbeda dari rumah produksi lain, selama 60 tahun bisnis tersebut berjalan, kue keranjang buatan Sulistyowati diklaim lebih pulen dan enak. Tidak memakai pewarna makanan, pengawet, maupun pemanis buatan.

Dari bahan dasar seperti tepung dan gula kami pakai yang memang bagus kualitasnya. Warnanya juga coklat alami dari gula pasir yang direbus cukup lama. Serta tidak menggunakan pewarna dan pemanis buatan sama sekali. “Ini kan resep turun temurun, tidak ada yang saya ubah,” tuturnya.

Sulistyowati menceritakan, kue keranjang ini memang identik dengan perayaan imlek. Kue berwarna coklat ini digunakan untuk sesaji di Vihara sebagai simbol rasa syukur atas raihan pada tahun sebelumnya. Serta pengharapan di tahun mendatang agar rejeki dan keberhasilan dapat semakin meningkat. Bisa juga dikonsumsi umat dalam perayaan Imlek tersebut. (ita/pra/fn)

Jogja Raya